godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Sabtu , Oktober 16 2021
Home / Daerah / Merasa Diperlakukan Tak Manusiawi, Warga Karantina BPWS Bangkalan Demo Tuntut Keadilan
Screenshot Video yang Viral terkait aksi damai yang dilakukan warga karantina BPWS di desa Labang, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Merasa Diperlakukan Tak Manusiawi, Warga Karantina BPWS Bangkalan Demo Tuntut Keadilan

BANGKALAN, NusantaraPosOnline.Com-Sejumlah warga yang dikarantina karena covid-19,  di bekas kantor BPWS (Badan Pengembangan Wilayah Suramadu) Bangkalan, Madura, Jawa Timur, mengelar aksi damai ditempat mereka dikarantina.

Bangunan bekas kantor BPWS tepatnya berada di desa Labang, Kecamatan Labang, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.

Mereka berteriak dan berorasi menyampaikan tuntutan serta mengeluhkan fasilitas ruang karantina yang mereka nilai tidak manusiawi. Video aksi damai ini pun menjadi viral, karena dengan cepat menyebar di media sosial.

Dalam Vidio yang diterima NusantaraPosOnline.Com pada Senin malam (21/6/2021) melalui grup WhatsApp,  Dalam Video berdurasi 7 menit tersebut terlihat seorang pria mengenakan peci warna putih dan memakai sarung, mewakili warga karantina, sedang berorasi dengan lantang, dan membacakan tuntutan yang telah ditulis pada secarik kertas. Sedangkan dibelakang sang pria itu terlihat sejumlah warga karantina lainnya, yang juga mengeluarkan teriakan untuk mendukung orasi dan tuntutan yang sedang dibacakan.

Disekitar mereka juga tampak terlihat pula aparat berpakaian TNI, hingga petugas yang mengenakan Alat Perlindungan Diri (APD).

Dalam orasi dan tuntutan yang dibacakan pria bersarung terasebut,  dengan lantang ia menyebutkan “Kami warga karantina di gedung BPWS mempunyai sepuluh tuntutan,” teriaknya di awal orasi, yang disambut teriakan oleh teman-temanya yang sesama warga karantina BPWS. Tuntutan bacakan yakni :  

  1. Air yang tidak pernah mengalir di toilet atas arah utara.
  2. Tempat suci untuk melaksanakan shalat berjamaah tidak tersedia.
  3.  Meminta agar kendaraan bermotor yang ada di Surabaya dibawa ke tempat karantina agar tidak rusak.
  4. Pendingin ruangan di lantai 2 sisi utara tidak menyala.
  5. Mereka mempertanyakan bagaimana prosedur dan hak-hak warga yang dikarantina berstatus OTG (Orang Tanpa Gejala) dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.
  6. Meminta hasil tertulis per lembar, hasil tracing (penelusuran) awal dan hasil tes PCR, baik yang terjaring penyekatan di pos petapan akses Suramadu (Bangkalan) arah Surabaya maupun pos Suramadu arah Madura untuk kepentingan laporan ke tempat kerja masing-masing.
  7. Mepertanyakan kapan hasil tes swab PCR dan rapid antigen bisa keluar sehingga diketahui warga karantina.
  8. Meminta adanya edukasi tentang tahapan karantina.
  9. Meminta santunan penuh untuk keluarga di rumah mengingat mereka merupakan tulang punggung keluarga.
  10. Meminta disiapkan pakaian layak serta kebutuhan kesehatan wanita seperti pembalut dan lain-lain, mengingat saat terjadi penyekatan secara tiba-tiba dan tidak ada persiapan dari warga karantina.

Dan terdengar suara terikan dan sorak-sorak dukungan dari warga lainnya juga terdengar saat di pria bersarung itu membacakan tuntutan.

Setelah membacakan tuntutan, mereka meminta agar petugas yang menjadi penanggung jawab karantina BPWS untuk menandatangani surat tersebut.

Selain menyampaikan 10 tuntutan, dalam video tersebut pria bersarung ini juga menyampaikan informasi, selama berada di lokasi Karantina BPWS Bangkalan. Dia mengatakan, jumlah penghuni rumah karantina di bekas kantor BPWS Surabaya lebih dari 100 orang, dan beberapa di antaranya warga berusia lanjut, dengan jumlah kamar mandi hanya ada 4 ruang.

Ia menyebutkan bahwa WC dijadikan kamar mandi. Dia juga mengatakan mereka tidak akan mau dites PCR jika hasil tes pertama saat penyekatan belum keluar. “Petugas juga memaksa warga karantina untuk didata ulang karena data sebelumnya dikatakan telah ketlisut (hilang),” tuturnya.

Mereka juga mengusulkan, sebaiknya warga karantina yang berasal dari luar kabupaten untuk dikembalikan ke daerah asalnya, dengan alasan kasihan meka yang dari luar kota jauh. “Kami meminta ada tanggapan dari pihak terkait, 1 x 24 jam selambat-lambatnya 2 x 24 jam.

Kami akan tertib tetapi,  tapi jika 10 tuntutan kami dalam 2 x 24 jam tidak ada respons, kami pulang. tegasnya.

Terakhir, permintaannya ialah memohon kepala daerah atau DPRD memberi perhatian atau warganya yang dikarantina.

Sementara itu, Menurut penuturan H (40), salah satu pasien karantina asal Surabaya Utara, beberapa pasien yang dikarantina merupakan lansia, ibu hamil, dan ibu menyusui. 

“Tidak cuma itu kami juga mengeluhkan air untuk mandi yang tidak keluar, dan kamar mandinya tidak layak karena jadi satu dengan WC,” jelas H melalui sambungan telepon selular. Senin (21/6/2021) malam.

H yang mengaku masuk karantina pada tanggal 13 Juni 202, berharap segera ada perbaikan fasilitas karantina, agar manusiawi dan kami berharap segera ada transparansi terkait data pasien yang dikarantina. “Kami minta diperlakukan secara manusiawi, dan ada transparansi kami meminta hasil tertulis per lembar, hasil tracing (penelusuran) awal dan hasil tes PCR, baik yang terjaring penyekatan di pos petapan akses Suramadu (Bangkalan) arah Surabaya maupun pos Suramadu arah Madura untuk kepentingan laporan ke tempat kerja masing-masing.” Imbuhnya.

Menurut H, puncak dari kekesaalan warga di karantina, mereka berunjuk rasa di lokasi karantina. Dalam kesempatan ini mereka menyampaikan 10 tuntutan mereka. Di antaranya ketersediaan air yang layak. Pungkasnya. (Ags)

Check Also

Atlet Tenis Lapangan Asal Jombang Mendulang Emas Di PON XX Papua 2021

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Atlit asal kabupaten Jombang Jawa timur M. Rifqi Fitriadi berhasil meraih medali Emas di Cabang …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!