Progres Proyek Terminal Tipe A Cepu Blora Terlambat, Bisa Merugikan Rakyat

Proyek Peningkatan / Revitalisasi Terminal Penumpang Tipe A Cepu, mengalami keterlambatan pengerjaan.

BLORA, NusantaraPosOnline.Com-Pengerjaan proyek Peningkatan / Revitalisasi Terminal Penumpang Tipe A Cepu, yang terletak di Kecamatan Cupu, Kabupaten Blora, Jawa tengah, mengalami keterlambatan, progres pekerjaan yang seharusnya selesai 30 persen, namun kenyatanya dilapngan baru selesai 14 persen.

Keterlambatan tersebut diduga akibat perencanaan pembangunan yang tidak cermata. Akibat keterlambatan ini, berpotensi merugikan masyarakat / rakyat. Karena pekerjaan menjadi tertunda dan penggunaan bangunan untuk pelayanan kepada masyarakat juga bisa menjadi tertunda pula.

BACA JUGA :

Keterlambatan tersebut diketahui setelah Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengevaluasi pekerjaan. Serta, kunjungan DPR RI di Terminal Cepu pada Kamis siang (16/11/2023) lalu, yang menyoroti perencanaan yang tidak efektif.  Padahal proyek ini menelan APBN sebesar Rp 32 miliar, dan anggaran sudah dikucurkan Kemenhub RI.

Direktur Prasarana Transportasi Darat Kemenhub Toni Tauladan mengungkapkan, pihaknya melakukan evaluasi proyek selama dua hari dan menemukan akar masalah berupa keterlambatan proyek yang telah dikerjakan pihak kontraktor.

“Sehingga jangan sampai variabel-variabel ini muncul di tahap berikutnya,” ujarnya.

Toni mengatakan, revitalisasi terminal dibagi menjadi dua tahap. Tahap pertama ditarget mencapai 30 persen dimulai 24 Mei hingga Desember. Sementara 70 per­sen sisanya dikerjakan pada Januari hingga 17 Mei 2024. Ketika terjadi keterlambatan ini, susah dilakukan penyesuaian.

BACA JUGA :

Pihaknya menegaskan, jika tahap kedua terjadi hal serupa, tidak ada toleransi bagi kontraktor. Karena perpanjangan kontrak sampai 17 Mei. Pekerjaan tahap pertama di antaranya persiapan, bongkar bangunan eksisting, dan struktur bawah sudah rampung.

‘‘Jadi tinggal pekerjaan tanah, tapi bobotnya cukup besar. Kami menargetkan akhir Desember mencapai lebih dari 30 persen,” ucapnya.

Sementara itu, perwakilan PT Apro Megatama KSO Alam Lintas Indonesia Aji Jamil menjelaskan, tidak terpenuhinya target pekerjaan karena ada review desain awal dari kementerian.

Target pekerjaan yang harus dikejar sebesar 30 per­sen, ­realisasi di lapangan 14 ­persen.

Jamil menambahkan, adanya review desain dari desain awal dikarenakan pada soft drawing dan di lapangan banyak yang tidak sesuai. Review desain tersebut setelah direvisi me­ngalami perubahan 60 persen. ‘‘Makanya pada saat memulai, kami pun terlambat,” jelasnya.

Aggota Komisi V DPR RI Sadewo menegaskan, bahwa keterlambatan akibat review desain. Sedangkan, kontraktor tidak langsung mengerjakan proyek di lapangan.

“Ada waktu tiga bulan sampai review desain klir. Kalau uang dari pemerintah pusat (sudah dicairkan),” ujarnya.

BACA JUGA :

Berdasarkan informasi yang dihimpun dilapangan menyebutkan, bahwa Selama tiga minggu terakhir tidak ada pekerjaan yang dilakukan kontraktor.

“Selama tiga minggu terakhir tidak ada pekerjaan yang dilakukan kontraktor. Kondisi tersebut tidak lazimnya, untuk proyek pemerintah yang mengunakan anggaran puluhan miliar (Rp 32 miliar-Red). Hal ini bisa merugiakan masyarakat apabila pekerjaan mangkrak. Karena kalau mangkrak bangunan untuk pelayanan kepada masyarakat menjadi tertunda pula.” Tandasnya.***

Pewarta : JUNSRI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!