godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Minggu , Desember 8 2019
Home / Investigasi / Proyek Renovasi SDN 01 Pojokklitih Rp 960,319 Juta, Diduga Jadi lahan Korupsi
Nampak dari dalam ruang kelas SDN Pojokkitih 01, kayu-kayu rangka atap dan plapon, banyak mengunakan kayu bekas, dan kayu berkualitas rendah.

Proyek Renovasi SDN 01 Pojokklitih Rp 960,319 Juta, Diduga Jadi lahan Korupsi

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Proyek renovasi SDN Pojokklitih 01, yang berlokasi JL Raya Klitih No 129, Desa Pojokklitih Kecamatan Plandaan Kabupaten Jombang, Jawa timur, yang dibiayai dari bantuan Direktorat Pembinaan SD, Dirjen Dikdasmen, Kementrian pendidikan atau APBN 2019 sebesar Rp 960.319.000 diduga jadi lahan korupsi.

Kepala SDN Pojokklitih 01, Sutikno, SPd (Kuasa Pengguna Anggaran proyek renovasi SDN Pojokklite 01)

Pasalnya proyek tersebut diduga terjadi praktek mark-up anggaran, bangunan dilapangan tidak sesuai dengan anggaran APBN yang dikuras untuk proyek tersebut. Anggaran gede proyek dilapangan sepele. Tak hanya itu pekerjaan dilapangan juga diduga banyak terjadi penyimpangan.

Dari hasil pantauan dilapangan, proyek Rp 960.319.000  pekerjaan dilapangan hanya berupa :

Satu : Rehab 4 ruang kelas, pekerjaan meliputi, meninggikan tembok/dinding 50 Cm, Pembongkaran atap, Pengantian kayu rangka atap, Pemasangan kembali genteng atap,  menganti gawang juga pintu dan jendela yang sudah rapuh, Pekerjaan finising (pendempulan, dan pengecatan). Pekerjaan rehab 4 ruang kelas tersebut, juga diduga terjadi penyimpangan, misalnya :

  • Semua pembesian balok bangunan mengunakan besi yang tidak sesuai SNI (besi banci) besi yang seharusnya besi SNI 10 mm, kenyataan dilapangan yang dipasang besi Banci 9,06 mm, kemudian besi kolom balok besi 6 mm diganti dengan besi tidak SNI ukuran 5,22 mm. Dipasaran ada perbedaan harga antara besi SNI dengan besi banci, ada selisih harga kisaran Rp 15 ribu / batang. Besi SNI lebih mahal dari besi banci.
  • Jadi anggaran belanja besi perbatang diduga sudah dicopet (dikorupsi) kisaran Rp 15. Jika dikalikan dengan jumlah besi yang dibutuhkan, maka potensi kerugian negara akan bernilai jutaan rupiah. Tak hanya itu kualitas bangunan juga berkurang.
  • Biaya pembongkaran ruang kelas sudah dianggarkan dalam RAB, tapi kenyataan yang membongkar atap bangunan dilaksanakan secara gotong royong wali murid.
  • Untuk kayu rangka atap, dan genteng, banyak yang mengunakan kayu bekas, dan genteng bekas  bongkaran yang lama. Jadi tak masuk akal proyek mendekati Rp 1 milyar, mengunakan kayu dan genteng bekas.

Dua : Pekerjaan pembangunan pagar sekolahan dengan panjang sekitar 50 m, ada indikasi penyimpangan, yakni : Pembangunan pagar mengunakan pondasi lama (pondasi pagar yang lama), pembesian tiang pagar semuanya diduga mengunakan besi yang tidak sesuai standar SNI.  Contohnya besi SNI ukuran 8 mm, kenyataan dilapangan mengunakan besi 7, 20 mm. Sedangkan besi 6 mm dilapangan mengunakan besi 5,22 mm.

Tiga : Pekerjaan pembangunan gedung kamar mandi (WC) luas bangunan  bangunan 5 m x 5 pembangunan mulai dari nol. Indikasi penyimpangan : Pembesian balok bangunan semuanya mengunakan besi banci.

Empat : Pekerjaan pembangunan bangunan gedung kantin luas sekitar 8 m x 5 m. Pembangunan dari nol. Pembesian semuanya diduga mengunakan besi beton tidak SNI. dan

Lima : Pekerjaan pembangunan gedung Ruang kepala sekolah, ruang guru, ruang UKS, luas bangunan sekitar 14 m x 7 m. Pembangunan mulai dari nol. Pembesian bangunan tersebut, juga semuanya mengunakan besi yang tidak sesuai standar SNI.

Jadi ada indikasi praktek mark-up anggaran pada proyek tersebut, karena diperkirakan untuk bangun gedung-gedung tersebut, diperkirakan tidak sampai menghabiskan anggaran hampir Rp 1 milyar. Yang lebih parah lagi hasil pekerajan dilapangan, ada pengurangan mutu bangunan, yakni mengunakan besi banci dan mengunakan material kayu dan genteng bekas bongkaran yang lama.

Tak hanya itu pelaksanaan pembangunan juga tidak transparan, kepala sekolah dan ketua panitia merahasiakan gambar bangunan dan Rencana anggaran belanja (RAB) proyek, kepada wartawan, dengan alasan yang tidak masuk akal.

Ketua panitia renovasi SDN Pojokklete 01, Suyatno, SPd, (celana merah) dilokasi proye.

Menurut wali murid, yang keberatan disebutkan namanya, ia mengaku untuk membongkar bangunan ruang kelas tersebut, dibantu para wali murid.

“Untuk membongkar 4 ruang kelas, tersebut dibantu oleh para wali murid secara gotong-royong. Murid SDN Pojokklitih 01 ini cuma 47 murid. Jadi tidak terlalu banyak wali murid yang ikut gotong-royong. Saya kira semua ruang kelas dibongkar, dan direhab total. Ternyata cuma renov atas 4 ruang kelas. Justru yang dibangun baru cuma Kantor Kasek, dan ruang guru,. Padahal anggaranya cukup besar.” Kata salah seorang wali murid SDN Pojokklitih 01. Rabu (27/11/2019).

Kepala SDN Pojokklitih 01, Sutikno, SPd, yang sekaligus Kuasa pengguna anggaran (KPA), terkait adanya temuan wartawan dilapangan adanya indikasi semua besi bangunan mengunakan besi yang tidak sesuai sdandar SNI, ia membantah hal tersebut.

“Saya belinya dari toko bangunan yaitu besi berukuran 10 mm, 8 mm, dan 6 mm, adanya seperti itu. Tapi kalau memang tidak sesuai, silahkan anda salahkan toko yang menjual besi tersebut.” Kata Sutikno, melalui sambungan telpon seluler, Selasa (26/11/2019). Tapi sayangnya ia tidak mau memberitahukan toko tempat ia belanja besi bangunan tersebut.

Bangunan pagar SDN Pojokklitih 01, yang sedang dalam pengerjaan, mengunakan pondasi lama, pembesian tiang mengunakan besi yang tidak SNI.

Sutikno, menambahkan, untuk lebih jelasnya besok saja ketemu di sekolahan, sekalian tim teknisnya besok ada dilapangan.

Selanjutnya, pada hari Rabu (27/11/2019) NusantaraPosOnline.Com mencoba meminta konfermasi lagi kepada Sutikno, namun Sutikno, dan yang disebut-sebut tim teknis malah tidak ada dilokasi proyek.

Menurut warga setempat yang keberatan disebutkan namanya ia mengatakan Sutikno (Kasek) ada disekolahan tapi bersembunyi. “Tadi saya lihat Sutikno, ada disekolahan, ada wartawan ia sembunyi. Mungkin ia takut bicara jujur.” Ujar warga.

Nampak dari dalam ruang kelas SDN Pojokkitih 01, kayu-kayu rangka atap dan plapon, banyak mengunakan kayu bekas, dan kayu berkualitas rendah.

Ditemui dilokasi proyek Ketua Panitia pembangunan Suyatno, SPd, yang sekaligus guru SDN Pojokklitih  01, menjelaskan uang bantuan dari APBN 2019 sebesar, digunakan buat pembangunan, rehab 4 ruang kelas, bangunan WC, kantin, ruang kepala sekolah, UKS, dan pagar.

“Untuk masalah pembesian bangunan, kami belanja di toko besi ukuran 10 mm, 8 mm, 6 mm. Pokoknya ukuran besinya segitu.” Kata  Suyanto, Kamis (27/11/2019).

Nampak besi beton yang seharusnya 10 mm SNI dilapangan dipasang besi banci 9,04 mm

Saat wartawan, menunjukan bukti ukuran besi yang digunakan untuk pembangunan gedung SDN Pojokklitih, yang tidak sesuai standar SNI, Suyanto mendadak emosi. “Saya beli besi bangunan ditoko, setelah anda ukur tidak sesuai SNI, jangan salahkan saya, salahkan saja toko yang jual.” Kata Suyatno.

Menurut Suyatno, untuk masalah pengunaan kayu bekas, memang kalau ada kayu yang masih bagus, kami pakai lagi untuk proyek ini. “Namanya saja proyek renov bangunan, jadi kalau ada kayu yang masih layak pakai kami gunakan kembali.” Kata dia.

Saat diminta penjelasan tentang luas bangunan dan gambar proyek bangunan ?  “Luasnya bangunan anda lihat saja sendiri dilapangan. Untuk masalah gambar proyek saya tidak akan memperlihatkan gambar proyek.” Ucap Suyatno.

Nampak dari dalam ruang kelas SDN Pojokkitih 01, kayu-kayu rangka atap dan plapon, banyak mengunakan kayu bekas, dan kayu berkualitas rendah.

Apa alasannya gambar proyek tidak boleh diperlihatkan pada wartawan ? “Pokoknya saya tegaskan gambar proyek tidak boleh diperlihatkan kewartawan. Karena gambar itu untuk sekolahan.” Kata Suyatno.

Sampai berita ini diturunkan, pembangunan sekolah tersebut masih dalam pengerjaan, jadi belum dapat diketahui secara pasti mutu bangunan tersebut, dan progres pembangunan juga belum bisa diketahui, karena kepala sekolah dan ketua panitia pembangunan, sangat tertutup.

Untuk diketahui, sekolahan SDN Pojokklitih 01 ini berada didesa terpencil dekat perbatasan Kabupaten Jombang dengan Kabupaten Nganjuk. Jumlah murid sekolah tersebut semuanya hanya 47 orang murid. (rin)

Check Also

Bantuan HIPPA Usaha Tani Desa Bendungan Jombang Jadi Ajang Bancaan

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Bantuan yang diperoleh Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA) Usaha Tani, Desa Bendungan Kecamatan Kudu …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *