JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Dinamika kontestasi kepemimpinan tertinggi Nahdlatul Ulama (NU) yang berlansung khidmat dalam Muktamar ke-35 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, mulai memasuki babak krusial.
Sejumlah nama kiai sepuh dan figur struktural papan atas mulai mencuat dalam bursa calon Rais Aam (Syuriyah) serta Ketua Umum PBNU (Tanfidziyah) untuk masa khidmah 2026–2031.
Untuk posisi Rais Aam, pemilihan secara tradisi akan menggunakan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) yang diisi oleh sembilan kiai paling senior pilihan muktamirin. Nama petahana KH Miftachul Akhyar (Pengasuh Ponpes Miftachus Sunnah Surabaya) diprediksi masih menjadi kandidat terkuat untuk menjaga kesinambungan spiritual organisasi.
Kendati demikian, arus dukungan kultural yang besar juga mengalir kepada KH Anwar Manshur (Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri) sebagai figur penyejuk di barisan Syuriyah.
Sementara itu, bursa calon Ketua Umum PBNU bergulir jauh lebih dinamis dan kompetitif. Berdasarkan draf tata tertib, seorang figur baru bisa disahkan sebagai calon resmi jika berhasil mengantongi dukungan minimal 99 suara dari Pengurus Cabang (PCNU) atau Pengurus Wilayah (PWNU) pemilik hak suara sah.
Saat ini, peta kekuatan terbagi ke dalam beberapa poros utama, yakni :
- Poros Keberlanjutan: Dipimpin oleh petahana KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) yang mengakar kuat di sejumlah wilayah berkat program digitalisasi organisasi dan transformasi struktural yang masif selama lima tahun terakhir.
- Poros Birokrat & Intelektual: Memunculkan nama Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar (Menteri Agama RI / Imam Besar Masjid Istiqlal) sebagai penantang kuat yang dinilai cakap menyinergikan visi umat dengan program pemerintah.
- Poros Kultural Pesantren: Menempatkan KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Ponpes Tebuireng sekaligus Pj Ketua PWNU Jawa Timur, sebagai figur pemersatu yang dinilai mampu mengembalikan khitmah murni NU ke akar pesantren.
- Poros Progresif Jawa Tengah: Memunculkan duet tokoh muda dinamis, yakni KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin) selaku Ketua PWNU Jateng dan KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) Pengasuh Ponpes Tegalrejo Magelang, yang merepresentasikan keterwakilan generasi baru di tingkat pusat.
Ketua Panitia Pelaksana (Organizing Committee) Muktamar ke-35 NU, Syaifullah Yusuf (Gus Ipul), mengimbau seluruh muktamirin untuk tetap menjaga marwah persidangan dan menepis segala bentuk disinformasi yang jamak beredar di media sosial menjelang pemungutan suara.
“Perbedaan dukungan di dalam muktamar adalah hal yang wajar dan menjadi bagian dari demokrasi khas Nahdliyin. Panitia pusat berkomitmen menjamin seluruh proses verifikasi hak suara berjalan transparan, tertib, dan beradab sesuai dengan arahan para masayikh,” ujar Gus Ipul saat memantau jalannya sidang pleno tatib.
Senada dengan hal itu, Ketua Panitia Lokal (Panlok), KH Abdurrozaq Sholeh (Gus Rozaq), memastikan situasi keamanan di ring satu area pesantren Tambakberas tetap kondusif dan steril dari intervensi luar, sehingga para kiai dan delegasi dapat bermusyawarah dengan jernih demi kemaslahatan masa depan NKRI. (Redaksi)
Editor : RURIN










