Revitalisasi Pedestrian JL Wahid Hasyim, Upaya Manjakan Pejalan Kaki & Penataan Kota

Penampakan pedestrian JL Wahid Hasyim Jombang setelah dibangun. Senin (29/11/2021)

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Pemerintah Kabupaten Jombang, Melalui Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) tahun ini melaksanakan kegiatan proyek Revitalisasi Pedestrian (trotoar) di kawasan JL KH Wahid Hasyim. Pembangunan ini menelan biaya Rp 16,774 milyar yang bersumber dari APBD Jombang TA 2021.

Kepala Disperkim Jombang, Ir Heru Widjajanto MSi, mengatakan tahun ini Disperkim Jombang melaksanakan proyek rehabilitasi drainase dan trotoar di Jl KH Wahid Hasyim, dengan membangun pedestrian kawasan Jl KH Wahid Hasyim.

SECTION 1 : Pedestrian Jl KH Wahid Hasyim, Ringin Contong s/d perempatan Tugu. Senin (29/11/2021)

“Pengerjaan dimulai pada 29 April 2021 yang ditandai dengan groundbreaking (peletakan batu pertama) dan saat ini pembagunan sudah selesai 100 persen. Dan sudah dapat dirasakan manfaat dari pembangunan ini.” Kata Heru Widjajanto, Senin (29/11/2021).

Heru menjelaskan, revitalisasi pedestrian kawasan Jl KH Wahid Hasyim, bertujuan untuk penataan kota Jombang agar terlihat rapi dan indah. Dan untuk memanjakan pejalan kaki. Agar memudahkan pejalan kaki melakukan pergerakan atau perjalanan dengan menyusuri jalanan kota.

Heru mengaku, revitalisasi pedestrian Jl KH Wahid Hasyim juga termotifasi belajar dari negara-negara maju. Masyarakat yang tinggal di sejumlah negara maju, terbiasa beraktivitas dengan menggunakan transportasi umum dan berjalan kaki hingga beberapa ratus meter. Hal tersebut, sudah menjadi bagian dari gaya hidup mereka.

“Hal inilah yang menyebabkan pemerintah di negara-negara maju membuat pedestrian yang nyaman bagi masyarakatnya untuk beraktifitas sehari-hari termasuk Kabupaten Jombang dengan pedestrian kawasan Jl. KH. Wahid Hasyim.” Terangnya.

SECTION 2 : Pedestrian Jl KH Wahid Hasyim, Perempatan Tugu s/d perempatan RSUD. Senin (29/11/2021)

Hal tersebut berbanding terbalik 360 derajat dengan kondisi yang ada di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Untuk menempuh radius 300 – 500 meter hingga 1 kilometer (jarak yang dianggap memungkinkan bagi seseorang cukup berjalan kaki) seringkali dilakukan dengan menggunakan kendaraan.

Alasan utama sebenarnya bukan hanya karena malas berjalan kaki, melainkan tidak ada tempat untuk berjalan kaki. Area pedestrian yang bisa memberikan rasa nyaman sekaligus aman bagi pejalan kaki, kian hari terasa terbatas sekali.

Pedestrian atau biasa disebut trotoar, harusnya bisa menjadi fasilitas yang bersahabat bagi pejalan kaki. Yang terjadi kini, area tersebut sering kali terokupansi oleh kendaraan bermotor, pedagang kaki lima, bahkan beralih fungsi menjadi lahan parkir. Belum lagi kondisi pedestrian yang tidak terawat dan sulit untuk dilintasi.

“Sehubungan dengan itu pada tahun 2021, Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Disperkim melakukan kegiatan Rehabilitasi Saluran Drainase/Trotoar Jl. KH. Wahid Hasyim yaitu dengan membangun pedestrian Jl KH Wahid Hasyim.” Tutur Heru.

SECTION 3 : Pedestrian Jl KH Wahid Hasyim, Perempatan RSUD s/d perempatan Kebonrojo. Senin (29/11/2021)

Lebih lanjut Heru menjelaskan, bahwa pedestrian Jl. KH Wahid Hasyim atau pedestrian pada dasarnya memiliki karakteristik yang sangat unik dan berbeda dari pedestrian yang pernah ada di Kabupaten Jombang.

“Pedestrian ini memiliki panjang kurang lebih 2.100 meter, dan terbagi menjadi 4 (empat) ruas /section, antara lain yakni :

1, Section 1 yakniRingin Contong s/d perempatan Tugu :

  • Didominasi pertokoan, tempat makan, dan perkantoran swasta.
  • Tema modern yang bisa dilihat dari pola arah pedestrian, material serta juga perabot pedestrian.
  • Tema minimalis mendukung pedestrian terlihat lebih bersih
  • Penutup lantai pedestrian dibuat dengan pola strip dengan pola zig-zag memberikan kesan trotoar agar tidak terlihat panjang serta ada penguatan aksen dari keramik warna-warni strip memutus kesan panjang tersebut.
  • Lampu penerangan pedestrian yang ditempatkan di area hijau dengan jarak 5 meter.
  •  Adanya kursi bench simpel berkesan modern, menggunakan material besi dan ditempatkan di setiap vertical garden atau dengan jarak maksimum 10 meter.
  • Adanya huruf timbul akrilik berdiri dengan tulisan KH. Wahid Hasyim sebagai identitas nama koridor jalan selain untuk pembatas trotoar.
  • Vertikal garden dengan rangka besi untuk memutus kesan memanjang trotoar.

2, Section 2 yakni, Perempatan Tugu s/d perempatan RSUD :

  • Didominasi perkantoran swasta dan toko.
  • Karakteristik sama seperti Section 1

3, Section 3 yakni, Perempatan RSUD s/d perempatan Kebonrojo :

  • Didominasi perkantoran pemerintah.
  • Tema tradisional mengangkat unsur sejarah dan budaya Jombang
  • Pada konsep perabot pedestrian dipasang topeng kesenian tari sandur sebagai elemen pada area hijau
  • Adanya penanaman pohon Tabebuya dengan bunga warna merah muda memberikan kesan dekorasi dan estetika.

4, Section 4 yakni, Perempatan Kebonrojo s/d Taman Mastrip :

  • Didominasi perkantoran dan toko.
  • Tema dinamis yang ada membuat pejalan kaki untuk bergerak lebih dinamis dengan memaksimalkan ukuran pedestrian, karena batas row area tersebut lebih lebar dibandingkan dengan section lain
  • Adanya perabot tempat duduk dibuat dari gabion
  • Bola beton pembatas diganti dengan pot bunga dengan bentuk setengah bola.
SECTION 4 : Pedestrian Jl KH Wahid Hasyim, Perempatan Kebonrojo s/d Taman Mastrip. Senin (29/11/2021)

“Saya berharap, warga semakin senang berjalan kaki. Selain lebih sehat juga dapat mengurangi pencemaran udara akibat pemakaian kendaraan pribadi. Semoga pembangunan ini banyak membawa manfaat besar terhadap masyarakat dan untuk mewujudkan Jombang Berkarakter dan berdaya saing (Berkadang). (Rin)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!