godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Minggu , September 27 2020
Home / Investigasi / Debu Pabrik Wood Pellet ‘PT Energi Biomassa Investama’ Jombang Dikeluhkan Warga
Pabrik Wood Pellet milik PT Energi Biomassa Investama di Dusun Kedungpring Desa Bareng, yang limbah debunya dikeluhkan warga. Sabtu (8/8/2020)

Debu Pabrik Wood Pellet ‘PT Energi Biomassa Investama’ Jombang Dikeluhkan Warga

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Aktifitas pabrik Wood Pellet milik PT Energi Biomassa Investama (PT EBI) di Dusun Kedungpring Desa / Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Jawa timur. Dikeluhkan warga setempat karena telah menimbulkan polusi udara.

Tak hanya itu, pabrik milik orang luar Kabupaten Jombang ini, yang merupakan sebagai tamu didesa Bareng, sejak beroperasi pada akhir Desember 2019 sampai sekarang tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat. Yang lebih parah lagi pabrikWood Pellet diduga belum mengantongi izin lengkap.

“PT EBI mulai beroperasi di Desa Bareng sejak akhir Desember 2019. Sejak PT EBI beroperasi  warga sekitar pabrik, mengeluhkan polusi udara, karena akibat aktifitas perusahaan ini menimbukan banyak debu. Debu dari PT EBI ini terbawa angin dan menyebar ke pemukiman dan rumah-rumah warga. Debu tak hanya hinggap di luar, melainkan sampai masuk ke dalam rumah.” Kata Agus (40) salah seorang warga desa Bareng. Sabtu (8/8/2020) petang.

Penampakan pabrik Wood Pellet milik PT Energi Biomassa Investama di Dusun Kedungpring. Sabtu (8/8/2020)

Menurut Agus, warga sangat kesal, sebab debunya sampai masuk rumah. Bahkan, sering menempel di baju yang sedang dijemur. Kami takut, lama kelamaan butiran debu ini akan terhirup lewat hidung. Lalu, menganggu kesehatan.

“Satu bulan yang lalu saya sudah menulis laporan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jombang, namun tidak ada tindakan apa-apa, saya disuruh melengkapi data foto dan vidio. Hari Kamis 30 Juli 2020 saya kembali mendatangi DLH ditemui dua ASN perempuan, mereka hanya bilang masalah laporan saya akan disampaikan keatasnya yaitu Pak Eko. Tapi kenyataanya sampai hari ini DLH Jombang, tidak melakukan apa-apa belum turun kelapangan.” Ujarnya.

Karena tidak ada tanggapan dari DLH Jombang, Agus, mengaku mereka terpaksa mendatangi langsung PT EBI. Saya bersama Ketua RW, Ketua BPD, Kepala Dusun, mendatangi langsung PT EBI, waktu itu ditemui pihak perusahaan yaitu Yunus. “Setelah ketemu Yunus, tidak ada hasil apa-apa faktanya hari ini pabrik  Wood Pellet PT EBI ini masih menyebabkan banyak debu, dan meresahkan warga sekitar pabrik.” Ucap Agus.

Ia menduga bahwa pabrik PT EBI tidak mengantongi izin lengkap, sejak beroperasi sampai sekarang tidak pernah ada sosialisasi kepada masyarakat sekitar pabrik. “Boro-boro mereka mau melakukan sosialisasi, pemerintah desa saja tidak tahu siapa pemilik perusahaan tersebut. Mereka datang kedesa sebagai tamu tiba-tiba beroperasi tanpa sosialisasi, dan menghasilkan limbah debu yang meresahkan warga.” Ujarnya.

Penampakan pabrik Wood Pellet milik PT Energi Biomassa Investama di Dusun Kedungpring. Sabtu (8/8/2020)

Agus menyebutkan, sebenarnya warga tidak menolak berdirinya pabrik tersebut asalkan memiliki izin lengkap, dan tidak menimbulkan polusi udara atau pencemaran udara. “Tapi karena keberadaan PT EBI ini menimbulkan banyak debu, dan diduga tidak kantongi izin lengkap kami berharap pabrik ditutup. Boleh beroperasi kalau sudah kantongi izin lengkap, dan bisa mengatasi limbah debu. Jadi warga minta ditutup bukan karena suka atau tidak suka, tapi karena alasan kesehatan, karena debu dari pabrik itu bisa membahayakan warga.” Tegas Agus.

Keluhan tersebut juga diungkapkan oleh Ibu Darsim, salah seorang pemilik warung yang berdekatan dengan pabrik PT EBI, ia mengatakan sejak perusahaan tersebut berdiri diwarungnya banyak sekali debu.

“Sejak berdiri PT EBI ini warung saya banyak sekali debu, hal ini sangat mengganggu. Hampir setiap jam saya terpaksa mengelap kursi, meja dan lain-lain di warung. Tidak lama habis dilap meja, kursi, dan barang yang ada diwarung sudah kotor lagi kena debu.”  Kata Ibu Darsim, Sabtu (8/8/2020) petang.

Bu Darsim, mengaku keluhan banyaknya debu dari pabrik (PT EBI) juga dikeluhkan oleh warga lainya, yang rumahnya berada disekitar pabrik. “Jadi warga sekitar pabrik resah akibat limbah debu dari pabrik itu.” Ucap Bu Darsim.

Penampakan bagian samping pabrik Wood Pellet milik PT Energi Biomassa Investama di Dusun Kedungpring. Sabtu (8/8/2020)

Terkait hal tersebut Sekertaris desa Bareng, Danang, ia membenarkan adanya keluhan masyarakat sekitar pabrik PT EBI. Tapi kami tidak mengetahui siapa pemilik pabrik tersebut, karena sampai hari ini tidak ada sosialisasi didesa. Dan untuk masalah perizinan sampai hari ini kami pemerintah desa tidak mengetahui secara persis sudah memiliki izin lengkap atau belum.

“Untuk masalah keluhan warga terkait banyaknya debu yang berasal dari limbah pabrik tersebut, memang pernah ada pertemuan kecil dengan pihak PT EBI difasilitasi pihak Muspika yakni Camat, Polsek, dan Koramil. Dari pertemuan tersebut, pihak PT EBI berjanji akan membuatkan cerobong asap, agar debu tidak menyebar kepemukiman warga. Tapi sampai hari ini cerobong asap yang dimaksud tersebut sudah dibuatkan / dibangun apa belum oleh PT EBI saya tidak tahu. Karena saya tidak pernah masuk didalam kawasan pabrik tersebut. Tapi faktanya sampai hari ini debu yang berasal dari pabrik tersebut masih, dan dikeluhkan warga.” Kata Danang, Sabtu (8/8/2020) petang.

Untuk masalah perizinan PT EBI ini, saya kurang paham sudah lengkap atau belum, cuman setahu saya sampai hari ini warga sekitar pabrik, belum pernah dimintai pesetujuan, dan Pemerintah desa juga tidak pernah ada pemberitahuan apa-apa dari PT EBI.

“Kepala desa dan Saya selaku Sekdes, bukan tidak tangap dengan keluhan warga, kalau saya datang kepabrik (PT EBI) kami takut timbul fitnah. Sebetulnya kami pemerintah desa senang ada investor datang kedesa kami, harapan kami bisa menyerap tenaga kerja dari desa. Tapi kalau keberadaan pabrik akan merugikan kesehatan warga, apalagi merugikan kesehatan warga dalam jangka panjang, tentunya kami harus menolak. Kami ingin perusahaan berjalan baik, kehidupan dan kesehatan warga kami juga tidak terganggu. Karena warga kami mempunyai hak untuk hidup sehat.” Tuturnya.

Penampakan pabrik Wood Pellet milik PT Energi Biomassa Investama di Dusun Kedungpring. Sabtu (8/8/2020)

“Jadi intinya begini, saya membenarkan adanya keluhan warga terkait limbah debu dari PT EBI ini. Untuk masalah perijinan, saya kurang paham, tapi memang sampai hari ini belum ada sosialisasi kepada warga sekitar. Sikap pemerintah desa Bareng saat ini tidak menerima dan tidak tidak menolak keberadan PT EBI ini. Harapan pemerintah desa Bareng, kalau PT EBI ini tetap akan beroperasi, limbah pabrik yaitu debu jangan sampai merugikan warga. Kami ingin pabrik berjalan lancar, warga kami juga tidak terganggu oleh limbah debu pabrik.” Tegasnya.

Lalu kapan pabrik Wood Pellet PT EBI  mulai beroperasi dan siapa pemiliknya ? “Awalnya bangunan yang digunakan pabrik tersebut adalah tempat mesin selep atau pengilingan padi milik warga, kemudian dijual ke PT EBI, oleh PT EBI digunakan untuk pabrik Wood Pellet. Mulai beroperasi sejak Akhir Desember 2019. Tapi kami tidak kenal siapa pemilik pabrik Wood Pellet PT EBI ini.” Terang Danang.

Terkait hal ini pihak PT EBI saat hendak dimintai konfirmasi, “Sekarang Pak Yusuf tidak ada, kalau hari Sabtu kadang tidak kesini (ke Pabrik), silahkan datang saja Senin kalau mau ketemu Pak Yusuf.” Kata salah seorang satpam, penjaga pabrik. Sabtu (8/8/2020). (Rin/Why)

Check Also

Dugaan Korupsi BST Kemensos Di Jombang, 122 KPM Didesa Keplaksari Hanya Terima Tahap 1 Dan 2

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Pelaksanaan pencairan Bantuan Sosial tunai (BST) dari Kementrian Sosial (Kemensos RI), untuk warga desa …

2 comments

  1. Saya kira perusahaan tersebut terlalu memaksakan beraktifitas berupa uji coba produksi sampai produksi hingga 24 jam

  2. Dan hari ini ada uji lap udara yang di tunjuk oleh fihak perusahaan (bukan arahan dari LHK) serta didampingi oleh Babin Kamtibmas warga dusun Kedungpring menyatakan bahwa sebelum alat penghisap debu yang sudah dijanjikan Junus terpasang “seyogyanya aktifitas berhenti operasional dulu sampai perbaikan/pemasangan alat hisap debu terpasang”.itu semua bukan lain adalah untuk memenuhi hak setiap warga untuk hidup sehat dan sejahtera,dan bukan kebalikannya yaitu kalau aktivitas dari perusahaan tersebut berhenti operasional dulu malah kasihan sama karyawan.karena jika alat penghisap debu sudah terpasang maka warga setempat dapat hidup nyaman dan sehat,otomatis didalam perusahaan tersebut debu juga tersedot oleh alat penghisap debu yang sudah terpasang.dan mohon diperhatikan mengenai dampak pulusi udara yang di timbulkan oleh perusahaan tersebut agar operasional sementara berhenti dulu sampai perbaikan dan pemasangan alat penghisap debu sudah terpasang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!