godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Senin , November 30 2020
Home / Investigasi / Pak Kades Di Jombang Jual Mesin Selep Padi Untuk Bantuan Petani
Rumah Kompos Desa Sudimoro, tempat menyimpan mesin selep bantuan, sebelum selep dijual kiloan (Dijual kiloan) oleh Makmun effendi (Mantan Kades Sudimoro)

Pak Kades Di Jombang Jual Mesin Selep Padi Untuk Bantuan Petani

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Satu unit mesin selep atau penggilingan padi huller, untuk bantuan petani di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh Kabupaten Jombang, Jawa timur, di jual oleh Kepala desa, setempat.

Kasus ini terkuak berawal dari laporan warga desa Sudimoro, yang mendatangi langsung kekantor redaksi NusantaraPos (NusantaraPosOnline.Com) kedatangan warga intinya melaporkan bahwa tahun 2011 lalu Gabungan kelompok tani (Gapoktan) desa Sudimoro, mendapatkan bantuan satu buah mesin giling padi, selanjutnya bantuan tersebut sudah raib diduga dijual oleh mantan Kades Sudimoro, bernama Makmun Effendi.

Kantor Desa Sudimoro

Penjualan mesin bantuan tersebut dilakukan sang mantan Kades tanpa musyawarah desa, maupun dengan kelompok tani atau Poktan penerima bantuan. Kuat dugaan hasil penjualan mesin selep digunakan untuk keperluan pribadi sang kades. Selain itu warga juga melaporkan kasus dugaan pungli program PTSL didesa tersebut.

Mantan Kades Sudimoro, Sunan, saat dikonfermasi membenarkan bahwa tahun 2011 lalu Gapoktan Sudimoro, mendapat bantuan mesin selep pengupas padi, yang berasal dari  program SRI (System Off Rice Intensification).

Setelah bantuan tersebut diterima karena tidak ada tempatnya, saya letakan di gudang selep milik saya.

“Tapi mesin selep tersebut jarang digunakan, karena bantuan selep tersebut kapasitas produksi sehari hanya bisa mengiling beras sekitar 5 kwintal (500 Kg) per hari. Padahal kalau musim panen untuk mengiling padi petani membutuhkan mesin selep yang kapasitas produksi besar kisaran 2 – 3 ton beras per-hari. Makanya mesin bantuan jarang digunakan. Rugi biaya operasional.” Terang Sunan.

Sunan juga menjelaskan, saya juga memiliki mesin selep milik keluarga, kapasitas produksinya besar. “Jadi mesin bantuan tersebut hanya diletakan saja digudang selep milik saya karena tidak ada tempatnya. Mesin tidak kami kuasai sendiri dan tidak kami pakai. Kami pakai saat uji coba saja, dan dipakai sesekali agar mesin tidak rusak. Karena kalau tidak dihidupkan takut mesin rusak karena karatan.” Kata dia.

Menurut Sunan, tahun 2013 saya tidak lagi menjabat Kades Sudimoro. Kemudian tahun 2015 mesin selep tersebut diambil oleh Kades Sudimoro yang baru yaitu Makmun effendi.

“Mesin selep diambil oleh Makmun effendi, dipindahkan ke rumah kompos milik desa. Kemudian tahun 2017 mesin selep tersebut sudah tidak ada lagi dirumah kompos. Selebihnya saya tidak tahu. Dipindah kemana mesin tersebut.” Terang sunan.

Saat ditanya berapa harga mesin bantuan tersebut ? “Ya tahun 2011 harga mesin tersebut, harganya sekitar Rp 70 juta.” Terangnya.

Ditempat terpisah, Kepala desa Ahmad Roni fatawi, ia justru mengaku tidak mengetahui keberadaan mesin selep tersebut. “Saya baru menjabat Kades Sudimoro pada akhir Desember 2019. Saat saya menjabat mesin selep tersebut tidak ada lagi dirumah kompos. Coba tanyakan sama Kades sebelum saya yaitu Sunan, atau ke Makmun effendi.” Kata Roni, kepada NusantaraPosOnline.Com di rumah kediamannya yang berada didepan rumah kompos, milik desa setempat. Jum’at (13/3/2020).

Jadi mesin selep bantuan tersebut, belum diketahui dimana tempatnya. Imbuh Roni.

Terkait hal tersebut  Mantan Kades Sudimoro, Makmun effendi, saat dimintai konfirmasi melalui sambungan telpon seluler, ia mengaku bahwa mesin selep bantuan tersebut sudah ia jual kiloan laku Rp 1 juta.

“Mesin Selep nya sudah saya jual ditimbangkan (Dijual kiloan) laku Rp 1 juta.  Mesin sudah tidak bisa dipakai ya saya jual. Uangnya saya gunakan untuk beli radio desa dan pemasangan lampu pinggir jalan dipinggir kali.” Terang Makmun Effendi.

Kapan mesin dijual, apa ada notulen rapat pembahasan didesa untuk menjual mesin bantuan tersebut ? “Mesin itu sudah lama, sudah tidak bisa dipakai. Saya jual sekitar tahun 2016 atau 2017. Jadi intinya uang hasil penjualan mesin tersebut saya gunakan untuk beli radio dan untuk lampu. Kalau notulen rapat memang tidak ada.” Kata Makmun Effendi. Sabtu (14/3/2020).

Hal ini mendapat sorotan, koordinator Lsm Aliansi rakyat anti korupsi (Lsm Arak) Safri nawawi, menurut dia mesin selep tersebut untuk bantuan ke Poktan, kalau seandainya mesin tersebut rusak, atau tak layak dipakai lagi, kades tidak bisa menjual mesin tersebut seenaknya.

“Minimal harus ada musyawarah dulu dengan Kelompok tani penerima bantuan. Kades tidak bisa asal jual. Kami minta penegak hukum mengusut kasus ini. Tidak perlu tunggu laporan resmi dari masyarakat. Tapi kalau penegak hukum lamban, terpaksa saya suruh teman-teman saya buat laporan resmi kepada penegak hukum. Apalagi untuk pembelian radio dan pemasangan lampu yang dimaksud Mantan Kades Sudimoro (Makmun Effendi) jangan-jangan dari Dana Desa (DD) atau Alokasi dana desa (ADD). ” Kata Safri.

Menurut dia bisa saja pembelian radio dan pemasangan lampu dianggarkan dari DD atau ADD. Karena ada masalah terkait penjualan mesin selep bantuan. Kemudian dijadikan alasan. “Seolah-olah radio dan pemasangan lampu diambilkan dari hasil penjualan mesin bantuan. Wajar kan kalau kita curiga, karena waktu menjual tidak dilengkapi notulen atau rapat kesepakatan warga penerima bantuan. Penjualanya kan tidak transparan.”  Imbuhnya. (Rin)

Check Also

Ada Mafia Hukum Dikasus Limbah B3 Di Jombang

Jombang, Tempat Penampungan Ilegal Limbah B3 Terbesar Di Jatim JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Kordinator Lsm Aliansi Rakyat anti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!