Pasca Kecelakaan Maut, Dishub Tutup Tambangan Perahu di Surabaya

Satu unit perahu tambang tenggelam di Dermaga Gang Tambangan, Pagesangan, Jambangan, yang berseberangan dengan Dermaga Kemlaten, Kebraon, Karangpilang di Surabaya, Jawa Timur. Sabtu (25/3/2023).

SURABAYA, NusantaraPosOnline.Com-Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya bakal menutup operasional perahu tambang di kawasan Mastrip Kemlaten Surabaya.  Menyusul telah terjadi insiden perahu tambangan tenggelam dan menyebabkan belasan orang menjadi korban dan satu penumpang tewas, pada Sabtu 25 Maret 2023 lalu.

Kepala Dishub Kota Surabaya Tundjung Iswandaru menyatakan, terkait penghentian operasional perahu tambang bakal dimulai minggu depan, hal menyusul insiden terbaliknya moda angkutan sungai.

“Perahu tambang Insya Allah minggu depan sosialisasi, diarahkan penutupan operasional. Karena memang tidak sesuai aturan,” kata Tundjung kepada wartawan di Balai Kota Surabaya. Rabu (29/3/2023).

Penutupan itu nantinya dikoordinasikan terlebih dahulu bersama pihak kecamatan setempat, sebab operasional perahu tambang tersebar di beberapa wilayah Kota Surabaya.

Tundjung memperkirakan ada sekitar belasan usaha perahu tambang yang masih beroperasi di Kota Surabaya, salah satunya di Kecamatan Jambangan.

“Nanti diharapkan koordinasi sama kecamatan, karena (keberadaan perahu tambang) ada di wilayah kecamatan masing-masing,” ujarnya.

Dishub Surabaya bersama pihak kecamatan juga mengupayakan solusi tepat bagi para pemilik perahu tambang. Mengingat usaha itu sudah beroperasi sejak lama.

“Tetapi mereka (pemilik usaha perahu tambang) menyampaikan itu sandang pangan mereka, mereka bergantung di situ. Rata-rata usianya sepuh. Itu turun temurun juga,” kata Tundjung.

Selain kecamatan, Dishub Surabaya juga bakal berkoordinasi dengan BPTD dan BPWS Brantas terkait wacana penutupan operasional perahu tambang, termasuk melakukan pengecekan standar kelaikan fasilitas keselamatan yang ada.

“Karena sekarang izin yang ada harus melalui BPTD dulu, kelangsungan sungai tersebut, dermaga, terkait fasilitas keselamatan yang ada, terkait alur pelayaran itu BPTD semua. Kemudian BPWS juga harus (koordinasi), karena yang punya wilayah,” ucapnya.

Sementara, Tundjung mengaku Dishub Kota Surabaya pada tahun 2019 pernah melakukan pengecekan terkait operasional perahu tambang, hasilnya moda angkutan itu tidak seusai dengan standar kelaikan.

“Di tahun 2019 kami sudah (pengecekan) bersama (Kantor) Syahbandar ke mereka (pemilik perahu tambang), seharusnya ditutup karena sudah tidak sesuai, tidak laik dan lain-lain,” Tandasnya.

Sebelumnya, Kepala Kepolisian Resor Kota Besar Surabaya Komisaris Besar Palma Royce menyatakan, pihaknya masih menyelidiki kecelakaan tambangan di Kali Surabaya pada Sabtu 25 Maret 2023 jelang pukul 08.00 WIB itu.

Kecelakaan dipicu kebocoran geladak sehingga perahu tenggelam dan berujung kematian seorang warga.

Dari laporan Kepolisian Sektor Karangpilang, lanjut Royce, kecelakaan terjadi saat perahu mengangkut 11 penumpang dan 9 sepeda motor. Saat itu, perahu dioperasikan oleh dua orang.

Tambangan itu mengalami kebocoran dan tenggelam ketika beberapa meter bergerak dari Dermaga Kemlaten, Kebraon, Karangpilang, menuju Dermaga Gang Tambangan, Pagesangan, Jambangan.

Dermaga Kemlaten berada di tepi Jalan Raya Mastrip yang mengarah ke wilayah Gresik bagian barat daya, Sidoarjo bagian barat, dan Kota Mojokerto bagian timur laut.

Kepala Unit Reserse Kriminal Kepolisian Sektor Karangpilang Inspektur Satu Gogot Purwanto mengungkapkan, pihaknya telah memeriksa 8 orang, terdiri dari 2 pemilik tambangan, 2 operator atau kru tambangan, dan 4 saksi korban atau penumpang yang masih hidup.

Dalam kecelakaan tambangan itu, korban meninggal adalah Desiree Peni Cindy (23), warga Kemlaten. Jenazahnya ditemukan dalam operasi pencarian dan pertolongan (SAR) pada Minggu atau sehari setelah kecelakaan.

Jenazah korban ditemukan di aliran Kali Surabaya di bawah jembatan Jalan Tol Surabaya-Gresik, sekitar 2 kilometer ke arah timur laut dari lokasi perahu tenggelam di dekat Dermaga Kemlaten.

Dari pemeriksaan sejauh ini, pemilik tambangan diketahui bernama Sumanto, warga Pagesangan.

Saat kecelakaan terjadi, Sumanto berada di rumah. Saat mendengar terjadi kecelakaan itu, ia bergegas mendatangi lokasi.

”Perahu selalu dirawat agar aman. Perawatan terakhir seminggu sebelum kecelakaan,” kata Sumanto kepada tim penyidik Polsek Karangpilang.

Menurut Sumanto, tambangan itu telah beroperasi bertahun-tahun dan dimiliki secara turun-temurun oleh keluarganya. Setiap penumpang dikenai tarif Rp 1.000 dan sepeda motor Rp 2.000 per unit.

Dari pengalaman, perahu tidak akan beroperasi ketika permukaan sungai naik tinggi, apalagi arus deras. Setiap pekan, kondisi perahu dicek sehingga jika ada potensi kebocoran bisa segera ditambal.

Namun, lanjut Sumanto, dirinya tidak memahami mengapa perahu itu bocor dan tenggelam sehingga berujung petaka yang mengakibatkan kematian seorang penumpang. (Fri)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!