Hukrim  

Pembunuhan Mahasiswi UBAYA Divonis 20 Tahun Penjara

Inilah wajah Rochamd Bagus Apriyatna alias Roy (tengah) terdakwa kasus pembunuhan terhadap Angeline Nathania mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Surabaya.

SURABAYA, NusantaraPosOnline.Com-Majelis hakim Pengadilan Negeri surabaya menjatuhkan vonis 20 tahun penjara kepada Rochamd Bagus Apriyatna alias Roy (41), terdakwa kasus pembunuhan terhadap Angeline Nathania (23) mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Surabaya (UBAYA).

Vonis ini lebih berat dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suparlan dan Damang Anubowo yang menuntut 19 tahun penjara.

Dalam putusannya, majelis hakim yang diketuai I Ketut Kimiarsa, menilai bahwa terdakwa Rochamd terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan pembunuhan berencana sebagaimana tertuang dalam fakta persidangan dan juga dari keterangan saksi.

“Mengadili, menyatakan terdakwa Rochmad Bagus Apriyatna alias Roy terbukti secara sah meyakinkan, bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Membebaskan terdakwa kumulatif kedua. Menjatuhkan hukuman pidana selama 20 tahun penjara kepada terdakwa,” Ucap Kimiarsa di ruang Cakra PN Surabaya. Kamis (4/1/2024).

Terdakwa dianggap terbukti melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Dalam putusannya, Ketua Majelis Hakim PN Surabaya I Ketut Kimiarsa mengatakan, putusan tersebut berdasarkan keterangan para saksi, bukti, dan fakta persidangan.

BACA JUGA :

Adapun pertimbangan majelis hakim, hal yang memberatkan perbuatan terdakwa sangat sadis, dan meresahkan masyarakat di dunia pendidikan, berbelit-belit selama persidangan. Perbuatan terdakwa melukai hati dan perasaan keluarga korban. Sedangkan hal yang meringankan tidak ada.

Mendengar putusan majelis hakim, terdakwa langsung tertunduk lesu. Sedangkan pihak keluarga korban Angeline Nathania mengaku puas dengan vonis tersebut.

Atas putusan tersebut, terdakwa dan jaksa menyatakan menerimanya. “Saya menerima Yang Mulia,”kata Rochman di persidangan.

Sementara itu, kuasa hukum keluarga korban yaitu Mahendra Suhartono menyatakan puas dengan vonis yang dijatuhkan oleh majelis hakim.

“Kami menghormati putusan pidana penjara selama 20 tahun yang telah dijatuhkan oleh majelis hakim kepada terdakwa, yang mana putusan tersebut lebih berat dari tuntutan JPU yang menuntut 19 tahun penjara,” Ungkapnya.

Mahendra juga menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang mendukung dan mengawal perjuangan keluarga korban untuk mendapatkan keadilan.

“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak terkait atas dukungannya untuk mendapatkan keadilan bagi keluarga korban. Khususnya bagi Dekan Fakultas Hukum Ubaya serta jajarannya, rekan-rekan advokat Alumni UBAYA, dan teman-teman mahasiswa/mahasiswi. Saya berharap kasus yang serupa tidak terulang di kemudian hari, dan terhadap tindakan keji membunuh orang lain dapat dijatuhi sanksi yang seberat-beratnya,” Ungkapnya.

Kronologi Pembunuhan, Korban Dan Pelaku Sempat Ingin Gadaikan Mobil

Untuk diketahui, terdakwa Rocmad mengenal korban Angeline sejak tahun 2017, berpacaran dengan korban meski statusnya telah menikah.

Sebelumnya, Kepolisian Resor Kota Besar (Polrestabes) Surabaya mengungkap kronologi dugaan pembunuhan terhadap Angelina Natania (22), mahasiswi Universitas Surabaya (Ubaya) yang jenazahnya ditemukan di dalam koper di Kawasan Gajah Mungkur, Cangar, Pacet, Kabupaten Mojokerto, pada Rabu (7/6/2023).

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Pasma Royce mengatakan, kasus tersebut berawal ketika ibu korban mengadu anaknya sudah tidak pulang selama dua hari pada Jumat (5/5/2022).

“Kami melakukan pengumpulan berbagai data dan informasi yang ada, juga mengumpulkan keterangan saksi, analisis IT dan CCTV,” kata Pasma di Mapolrestabes Surabaya, Jumat (9/6/2023).

Kemudian, polisi menangkap Rochmat Bagus Apriyatna (41), warga Gunung Anyar Kidul, Surabaya, yakni sebagai seseorang yang terlihat terakhir kali bersama korban pada Rabu (7/6/2023). Rochmat merupakan guru les musik korban.

“Setelah mendalami, didapatkan pengakuan pelaku RBA telah melakukan tindak pidana pembunuhan terhadap korban,” jelasnya.

Saat diinterogasi, pelaku mengaku janjian untuk bertemu dengan korban pada Rabu (3/5/2023). Korban dan pelaku janjian bertemu untuk menggadaikan mobil Xpander milik korban. Akhirnya, korban menjemput pelaku di salah satu kafe di kawasan Surabaya.

“Setelah ketemu, korban sempat ke kampus dulu dan pelaku berkeliling dengan mobil korban,” ucapnya.

Pelaku lalu menjemput korban di kampus Ubaya, setelah korban menyelesaikan perkuliahanya. Kemudian, keduanya memutuskan untuk makan dan bertemu dengan beberapa orang.

“Rencananya mobil Xpander (milik korban) ini mau digadaikan, karena sudah kehabisan uang,” ujarnya.

Akan tetapi, usaha mereka tidak membuahkan hasil, karena tidak ada satu pun orang yang mau menampung mobil itu. Keduanya akhirnya berkeliling lagi hingga larut malam.

“Mereka tidur di sebuah parkiran apartemen di dalam mobil di tanggal 4 Mei 2023. Setelah itu, pukul 12.30 di depan Kebun Bibit Wonorejo, Jalan Kendalasari, mobil berhenti,” kata dia.

Keduanya kemudian terlibat pertengkaran hingga menyebabkan korban berteriak kencang. Pelaku yang ketika itu ketakutan akhirnya mencekik dan membekap mulut korban.

“Akhirnya korban diikat dan dicekik, dibekap mulutnya hingga lemas. Terakhir menggunakan tali di celananya (pelaku) menjerat leher sehingga korban lemas dan meninggal dunia,” ucapnya.

Tersangka yang kebingungan usai membunuh korban, kemudian berkeliling Surabaya terlebih dahulu. Pria tersebut lalu pulang ke rumah mertuanya untuk mengambil koper dan membeli plastik wrapping.

“Korban dimasukkan (ke dalam koper) dan kopernya dililit dibungkus pakai plastik wrapping sebanyak empat lapis,” jelasnya.

Setelah itu, pelaku membuang jenazah korban yang sudah dimasukkan ke dalam koper tersebut di tikungan jurang kawasan Gajah Mungkur, Cangar, Pacet, pada Jumat (5/5/2023) dini hari.

Polisi mengamankan sejumlah barang bukti seperti tas koper berwarna hitam, satu unit ponsel, rekaman CCTV, satu unit mobil Mistubishi Xpander, dan hasil pemeriksaan Polrestabes Surabaya.

“Kami akan menjerat sesuai dengan Pasal 338 dan 340 KUHP dengan ancaman maksimal seumur hidup.” tutupnya.***

Pewarta : AGUS. W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!