godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Sabtu , Oktober 16 2021
Home / Investigasi / Transaksi Jual Beli Jabatan Sekdes Terjadi Di Jombang, Bandrolnya Rp 260 Juta
Ilustrasi Jual beli jabatan Sekdes, di Kecamatan Kabuh Jombang. Pengangkatan Sekdes tanpa pelantikan

Transaksi Jual Beli Jabatan Sekdes Terjadi Di Jombang, Bandrolnya Rp 260 Juta

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Transaksi jual beli jabatan tidak hanya marak di level pemerintah pusat atau daerah, tapi juga tak kalah ramai di tingkat pedesaan. Misalnya yang terjadi disalah satu desa di Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang Jawa timur. Untuk jabatan Sekretaris Desa (Sekdes) dibandrol dengan harga Rp 260 juta.

Kasus ini mencuat setelah salah seorang mantan Sekdes di Kecamatan Kabuh, berinisial JW (40) secara terang-terangan mengaku mundur dari Jabatannya sebagai Sekdes, karena ada seseorang berinisial AKS (40) yang sanggup membeli jabatan JW sebagai Sekdes, dengan harga kisaran Rp 260 juta.

Sedangkan AKS sipembeli jabatan Sekdes, juga merupakan perangkat desa, didesa yang sama, AKS menduduki jabatan Kasi Kesejahteraan rakyat (Kasi Kesra), membeli jabatan Sekdes dengan tujuan agar AKS bisa mengantikan JW sebagai Sekdes.   

Menurut JW salah seorang mantan Sekdes di Kecamatan Kabuh, mengatakan kasus jual beli jabatan Sekdes itu terjadi pada Maret 2021. Yang membeli jabatanya adalah temannya sendiri berinisial AKS sesama perangkat desa, seharga kisaran Rp 260 juta. AKS ini sebelumnya menjabat sebagai Kasi Kesra.

“Awal jual beli jabatan Sekdes antara saya, dengan AKS (Kasi Kesra) melalui perantara atau makelar berinisial WS (46). Sedang WS ini adalah warga satu desa dengan saya dan AKS.” Kata JW, kepada NusantaraPosOnline.Com, Senin (5/10/2021).

JW membeberkan, diawal tahun 2021 lalu kondisi perekonomian saya mulai kolap dan terlilit hutang, ditambah lagi kondisi pandemi COVID-19 perekonomian saya tambah semakin sulit.

“Singkat cerita, saat kondisi perekonomian saya sedang sulit, saya didatangi oleh WS yang intinya, WS sanggup mencarikan saya uang agar saya bisa bayar hutang. Tapi dengan syarat saya harus mundur diri jabatan sebagai Sekdes. Waktu itu WS bilang kesaya ada seseorang yang sanggub melunasi hutang saya, dan orang ini nanti akan mengantikan saya sebagai Sekdes. Namun waktu itu WS tidak menyebutkan nama orang yang akan membeli jabatan saya ini.” Kata JW.

Karena sudah kepepet hutang, sambung JW, tanpa berpikir panjang saya menyanggupi (Sanggub) mundur dari Jabatan Sekdes. Dengan syarat hutang saya dibayar oleh orang yang akan mengantikan saya sebagai Sekdes.

“Selanjutnya pada Maret 2021 terjadilah kesepakatan antara saya dengan WS. Intinya kesepakatan WS akan memberikan uang sebesar Rp 260 juta kepada saya, dan saya siap mundur diri jabatan sebagai Sekdes. Selang sekitar satu minggu terjadi realisasi, WS menyerahkan uang ke saya. Namun penyerahan uang sekitar Rp 260 juta itu dilakukan bertahap.” Beber JW.

JW merincikan, penyerahan uang dari WS ke saya sebanyak 6 kali penyerahan. Total 6 kali penyerahan uang dari WS kesaya sekitar Rp 190 juta. Selanjutnya belakangan baru saya ketahui ternyata yang membeli jabatan saya, adalah teman saya sendiri yaitu sesama perangkat desa yaitu AKS yang menjabat Kasi Kesra.

“Saya tidak mempermasalahkan AKS yang membeli jabatan saya sebagai Sekdes, karena saya sudah terlanjur terima uang. Selanjutnya ada penyerahan uang dari AKS ke saya sebesar kisaran Rp 35 juta. Penyerahan uang Rp 35 dilakukan bertahap (dicicil) 3 kali. Jadi perincianya uang yang saya terima melalui makelar WS sebesar Rp 190 juta, dan dari AKS langsung sebesar Rp 35 juta. Total keseluruhan uang yang saya terima dari WS dan AKS sebesar Rp 225 juta. Kekuranganya sekitar Rp 35 juta, sampai hari ini belum dibayar oleh AKS dan WS.” Ujar JW.

JW mengatakan setelah menerima uang dari WS, saya komitmen sewaktu-waktu siap mundur dari jabatan sebagai Sekdes.

“Masalah jual beli jabatan ini diketahui oleh Camat kabuh, dan Kades. Bahkan yang mempersiapkan surat pengunduran diri adalah Kasi Pemerintahan Kecamatan Kabuh berinisial S. Dan surat pengunduran diri, saya tanda tangani dirumah pribadi Camat Kabuh, yang ada dikawasan Tambak beras.” Ujar JW.

Setelah saya menanda tangani surat pengunduran diri di rumah Camat Kabuh, Nah secara diam-diam Camat Kabuh mengeluarkan rekam, dan Kades mengangkat  AKS sebagai Sekdes mengantikan saya, dan saya sudah tidak menjabat apa-apa lagi di desa.

SK Pengakatan AKS ini sebagai Sekdes ini terjadi bulan Juli 2021. “Jadi setelah saya mundur tidak ada Plt, dan tidak ada Musdes, langsung Kades mengeluarkan SK mengangkat AKS sebagai Sekdes. Dan sampai hari ini AKS belum pernah dilantik sebagai Sekdes, tapi sejak Juli 2021 AKS sudah menjabat Sekdes, bahkan warga juga tidak mengetahui ada pergantian Sekdes, jadi warga cuman dibodohi oleh Camat, Kades dan WS.”  Ucap JW.

JW menambahkan, tak hanya itu didesa tempat saya menjabat ini, masih ada permainan lagi waktu pengisian jabatan Jabatan perangkat desa, yaitu pengisian jabatan Kaur Kesra, dan Kasi Pem Desa.

“Permainan ini juga melibatkan Camat Kabuh, Kades, dan makelar WS. Nah untuk masalah permainan ini akan saya beberkan lagi dihari berikutnya. Saya berencana menghadap Bupati Jombang, dan membongkar ini ke penegak hukum. Agar desa saya ini ada perbaikan, kedepan bisa maju. Ini bukan isu tapi fakta, dan pada akhirnya saya siap akan melakukan sumpah pocong, untuk menguatkan keterangan yang saya buat.” Ucap JR. Bersambung. (Rin/Why)  

Check Also

Astaga, Kantongi Uang Proyek Kakus Jombang Berkadang, Kades Di Jombang Dipolisikan

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Kepala Desa Kauman, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang, Riyanto, dilaporkan ke Polres Jombang, Mad Iskak, …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!