godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Jumat , Februari 26 2021
Home / Agama / Jenazah Wanita 17 Tahun Cucu Penganut Syiah Ditolak Warga Di Madura

Jenazah Wanita 17 Tahun Cucu Penganut Syiah Ditolak Warga Di Madura

SAMPANG, NusantaraPosOnline.Com-Proses pemakaman jenazah seorang perempuan berinisial NA (17) warga Desa Blu’uran, Kecamatan Karang Penang, Kabupatem Sampang, Madura, Jawa Timur ditolak warga setempat, Rabu (28/10/2020).

Warga beralasan, karena kakek dari NA merupakan penganut Syiah yang selama ini mengungsi di Rumah Susun (Rusun) Jemundo, Sidoarjo.

Jauh sebelum meninggal, NA memang diasuh oleh kakeknya, mengingat kedua orang tua NA sudah sejak lama bercerai.

Kapolsek Karang Penang, Iptu Slamet menjelaskan, jenazah NA dijemput petugas ke rumah duka usai menerima laporan penolakan proses pemakaman oleh warga setempat. “Sebelum menjemput jenazah, kami melakukan koordinasi dengan Polres dan pemerintah daerah,” ujarnya, Kamis (29/10/2020).

Jenazah NA dibawa petugas dengan menggunakan mobil ambulans dari Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Karang Penang ke Balai Latihan Kerja (BLK) dengan pengamanan ekstra ketat dari unsur TNI/Polri. “Kami bersama semua pihak, khususnya dengan keluarga duka melakukan koordinasi agar NA dapat dikebumikan di wilayah Sampang, meski bukan di kampung halamanya,” tegasnya.

Slamet mengaku, jika jenazah NA merupakan cucu salah satu warga pengikut aliran Syiah pimpinan Tajul Muluk yang masih mengungsi di Rumah Susun (Rusun) Jemundo, Sidoarjo. “Informasi yang kami terima, jenazah cucu seorang kakek yang masih tinggal di Rusun Jemundo, Sidoarjo,” lanjutnya.

Camat Karang Penang, Sampang, Syamsul Arifin, memangatan semalam, jenazahnya bawa ke Balai Latihan Kerja (BLK) milik Pemkab Sampang, disana kita cari solusi bersama untuk menentukan tempat dan proses pemakaman. kata Camat Karang Penang, Sampang, Syamsul Arifin.

“Warga Desa Blu’uran menolak pemakaman jenazah NA karena diduga merupakan anak cucu pengikut ajaran Syiah yang sedang mengungsi di Rumah Susun (Rusun) Jemundo, Sidoarjo.” kata Syamsul Arifin.

Menurut Syamsul sebelumnya, NA terkadang pergi ke pengungsian kakeknya di Sidoarjo. Namun, dia tidak menetap di sana. “Sebelum meninggal, NA mengalami sakit asam lambung dan dibawa pulang oleh keluarganya untuk dirawat di rumah sakit wilayah Madura.” Ujarnya.

Berhubung jenazahnya ditolak oleh warga, akhirnya kami bersama polsek dan koramil serta pihak keluarga, memakamkan jenazah NA di daerah Desa Gunung Maddah, Kecamatan Kota Sampang, tuturnya. (Ags)

Check Also

Pemerintah Resmi Tetapkan Idul Fitri Jatuh Pada Minggu 24 Mei 2020

JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Pemerintah melalui Kementrian Agama menetapkan 1 Syawal 1441 Hijriah atau Idul Fitri jatuh pada …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!