Kebijakan Mendagri Menunjuk Pj Kepala Daerah Diri TNI Menuai Keritik

Jenderal Polisi Tito Karnavian (mantan Kapolri) yang sekarang menjabat Menteri Dalam Negeri

JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Belum lama ini Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian membuat kebijakan menunjuk Kepala BIN Daerah Sulawesi Tengah, Brigjen TNI Andi Chandra As’aduddin sebagai Penjabat (Pj) kepala daerah di Seram Barat, Provinsi Maluku.

Kebijakan itu, menuai keritikan dari berbagai kalangan, misalnya sejumlah aktivis dan pegiat demokrasi mengkritik penunjukkan tersebut dan mendesak pemerintah mengoreksi penunjukkan TNI/Polri aktif sebagai penjabat kepala daerah.

Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen Indonesia (Formappi) Lucius Karus mengtakan, bahwa penunjukkan itu tidak sesuai dengan semangat dan amanat reformasi.

“Kalau tidak segera dicegah, ini bisa memberikan semacam peluang kepada TNI/Polri aktif untuk menduduki jabatan sipil,” Kata kata Lucius.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menilai penunjukkan Andi menjadi Pj kepala daerah merupakan bentuk dari ‘Dwifungsi TNI’ dan melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mengkhianati profesionalisme TNI, terlebih melanggar prinsip demokrasi. Kata Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Muhammad Isnur mewakili koalisi.

Isnur menegaskan, bahwa tugas pokok TNI adalah menegakkan kedaulatan negara, mempertahankan keutuhan wilayah NKRI, serta melindungi bangsa dari ancaman dan gangguan terhadap keutuhan bangsa. Hal ini telah diatur secara jelas dalam Pasal 30 ayat (3) UUD 1945.

Kemudian Pasal 5 UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI menegaskan bahwa peran TNI adalah sebagai alat pertahanan negara yang pada implikasinya bahwa anggota TNI aktif terpisah dari institusi sipil negara.

Koalisi menilai bahwa penunjukkan Brigjen TNI Andi Chandra merupakan pelanggaran terhadap Tugas Pokok dan Fungsi TNI sebagaimana diatur dalam UU 34 Tahun 2004 tentang TNI yang secara tegas diatur dalam pasal 47 ayat (1) UU 34/2004 bahwa Prajurit TNI hanya dapat menduduki jabatan sipil setelah mengundurkan diri atau pensiun dari dinas aktif keprajuritan.

Sedangkan kepala daerah merupakan jabatan sipil yang pada dasarnya hanya dapat ditempati oleh sipil.

“Oleh karena itu, Koalisi mendesak pemerintah dalam hal ini Presiden Joko Widodo dan Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, untuk membatalkan dan mencabut penunjukan anggota TNI Aktif sebagai Pj Bupati,” demikian keterangan resmi koalisi.

Sementara itu Mewakili pihak pemerintah, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Mahfud Md mengklaim penempatan perwira tinggi (pati) TNI aktif sebagai Pj kepala daerah tidak salah dan diperbolehkan secara hukum.

“Terkait penempatan TNI sebagai Pj kepala daerah, itu oleh undang-undang, peraturan pemerintah, maupun oleh vonis MK (Mahkamah Konstitusi) itu dibenarkan,” kata Mahfud lewat tayangan video, Rabu lalu.

Dia menjelaskan UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang TNI menyebutkan bahwa anggota TNI tidak boleh bekerja di luar institusi TNI, kecuali di 10 institusi kementerian atau lembaga pemerintah non-kementerian (K/L) seperti di Kemenkopolhukam, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT). “Dan itu boleh TNI bekerja di sana,” Ucap Mahfud.

Mahfud juga menyebutkan, penempatan anggota aktif TNI maupun Polri sebagai penjabat kepala daerah, juga diperkuat oleh UU Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara. Dalam Pasal 27 UU ASN disebutkan bahwa anggota TNI dan Polri boleh masuk ke birokrasi sipil, selama diberi jabatan struktural yang setara dengan tugasnya.

“Selanjutnya pada Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 11 Tahun 2017, juga disebutkan TNI, Polri boleh menduduki jabatan sipil tertentu dan diberi jabatan struktural yang setara,” jelasnya.

Mahfud menjelaskan terkait vonis MK yang sering disalahpahami dalam merespons penempatan anggota aktif TNI dan Polri sebagai penjabat kepala daerah. Vonis MK itu, menurut Mahfud, menyebutkan dua hal. Anggota TNI dan Polri tidak boleh bekerja di institusi sipil, kecuali pada 10 institusi kementerian yang selama ini sudah ada.

“Sepanjang anggota TNI dan Polri itu sudah diberi jabatan tinggi madya atau pratama boleh, ya boleh menjadi penjabat kepala daerah. Itu sudah Putusan MK Nomor 15, yang banyak dipersoalan orang tuh, (Peraturan MK) Nomor 15 (Tahun) 2022 itu. Coba dibaca keputusannya dengan jernih,” kata dia.

Dia juga memberi contoh, bahwa Pemerintah telah empat kali menunjuk anggota aktif TNI dan Polri sebagai penjabat kepala daerah. “Misalnya pada 2017, kami menggunakan ini, (kemudian) 2018, yang terbanyak itu 2020. Itu banyak sekali. Ini sudah jalan dan aturan-aturannya sudah ada,” ujarnya.

Hal yang hapir senada diungkapkan, Staf khusus Mendagri, Kastorius Sinaga mengklaim bahwa penijukan Kepala BIN Daerah Sulawesi Tengah, Brigjen TNI Andi Chandra As’aduddin sebagai Penjabat kepala daerah tidak menyalahi aturan apapun.

Terlebih, Tito menunjuk seorang penjabat berdasarkan pertimbangan kompetensi dan kebutuhan daerah secara spesifik. Berdasarkan data faktual yang dikumpulkan Kemendagri, Kabupaten Seram Barat memiliki potensi konflik horizontal akibat batas wilayah.

“Rekam jejak, Brigjen Andi Chandra dalam mendeteksi menangani serta mereduksi konflik seperti Itu sudah terbukti dari pengalaman beliau selaku pejabat Kabinda Sulawesi Tengah yang juga termasuk merupakan wilayah konflik,” Kata Kastorius. Senin (30/5/2022). (bd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!