godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Selasa , November 24 2020
Home / Investigasi / Kinerja Kades Pulorejo Didik Dwi astono Dipertanyakan
Kades Pulorejo, Didik Dwi Astono

Kinerja Kades Pulorejo Didik Dwi astono Dipertanyakan

Proyek Dana Desa Hanya Beberapa Bulan Sudah Hancur 

JOMBANG-Lagi-lagi pelaksanaan infrastruktur yang dibiayai dari Dana Desa (DD) di Jombang bermasalah. Kali ini kinerja Kepala desa Pulorejo, Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, Didik Dwi astono, dipertanyakan, pasalnya hasil pembangunan fisik yang dibiayai Dana desa, didesa tersebut berkualitas buruk,  dan dikerjakan tidak sesuai aturan.

Menurut Hendra, dari Lsm Aliansi rakyat anti korupsi (Lsm Arak) kami menemukan adanya indikasi penyimpangan pada pelaksanaan Dana desa di Desa Pulorejo. Adapun temuan kami yaitu :

Pertama : Tahun 2016 lalu Pemdes Pulorejo meangangarkan kegiatan proyek pembangunan  peningkatan jalan dan Paving volume 179 x 3 M& 88 M2 anggaran Rp 67 juta, lokasi kegiatan dusun Kendilwesi. Dari penelusuran dilapangan kegiatan Dilokasi proyek hanya ditemukan prasasti, namun tidak ada pekerjaan, jadi kuat dugaan proyek tersebut fiktif.

Kedua : Pada Dana desa2018 dianggarkan untuk kegiatan Pembangunan jalan rabat beton di dusun  Kendilwesi, volume 248 M3 anggaran Rp 91. 391.000. dari temuan dilapangan proyek baru dikerjakan pada Januari 2019, dan selesai pada Februari 2019. Padahal DD bersumber dari APBN sedangkan APBN 2018 hanya berlaku pada 1 Januari – 31 Desember 2018. Artinya pelaksanaan proyek pada Januari 2019 itu sudah tidak sesuai aturan

Yang lebih parah lagi temuan kami pada Mei 2019 kondisi bangunan jalan sudah mengalami kerusakan, permukaan jalan sudah banyak yang pecah-pecah dan terkelupas.

Ketiga : Pada Dana desa 2018 dianggarkan untuk kegiatan Pembangunan jalan rabat beton, di dusun Karangasem, volume 330 m3 anggaran Rp 125 juta. Proyek ini selesai dikerjakan sebelum idul fitri 1440 H. Tapi hanya beberapa bulan jalan sudah rusak, permukaan jalan sudah pecah, terklupas dan pretel. Ini menunjukan bahwa kualitas pekerjaan buruk.

Keempat : Pada DD tahun 2015 dianggarkan untuk kegiatan meratakan tanah untuk jalan desa di dusun Cumpleng, Selanjutnya tahun 2016 dianggarkan untuk jalan makadam, tahun 2017 dianggarkan lagi untuk aspal lapen, dan tahun 2018 dianggarkan untuk kegiatan pembangunan rabad beton, volume 326 m, anggaran Rp 124.875.000.

Sejak tahun 2015 – 2018 anggaran dana desa dialokasikan dijalan dan lokasi yang sama. Pada tahun 2016 dianggarkan untuk jalan makadam, tahun 2017 dianggarkan untuk aspal lapen, karena buruknya kualitas bangunan jalan aspal lapen, kemudian tahun 2018 dianggarkan untuk jalan rabad beton dibangun diatasnya (diatas jalan aspal lapen).

Ini menunjukan bahwa pengunaan dana desa tidak terencana dengan baik. Yang lebih parah lagi bangunan jalan rabad beton yang didanai dari DD 2018, saat ini kondisinya sudah rusak parah.

“Kinerja Didik dwi astono layak diragukan, disamping kinerja buruk, kades satu ini jarang ngantor di kantor desa. Beberapa kali kami mendatangi kantornya tidak pernah ketemu.” Kata Hendra. Minggu (29/7/2019).

Menurut Hendra, kami menemukan adanya proyek tahun 2016 yang diduga fiktif, Kualitas pekerjaan jalan rabad beton tahun 2018 baru beberapa bulan jalan sudah rusak. Dan sejak tahun 2015 – 2018 ada anggaran dana desa dilokasi dan tempat yang sama.

“Jadi dari temuan tesebut adanya jelas-jelas merugikan masyarakat. Kami yakin rakyat tidak akan iklas jika uang pajak yang mereka kumpulkan digunakan untuk pembangunan yang asal-asalan dan tidak bermutu. Kami berharap penegak hukum menindak lanjuti temuan kami.” Ucapnya.

Terkait hal tersebut, menurut Sariyan, warga setempat yang juga ketua RT, ia mengatakan, saya sempat menanyakan proyek peningkatan jalan dan paving di dusun Kendilwesi, yang dibiayai dari DD 2016 Rp 67 juta, kepada kepala desa.

“Saya tanyakan kekades, tapi ia tidak bisa menunjukan proyek tersebut. Masak dilokasi proyek ada prasasti saja, tapi jalan pavingnya tidak ada. Saya sempat ramai dengan Kades.” Kata Sariyan.

Masih menurut Sariyan, untuk pekerjaan jalan rabad beton yang dibiayai DD 2018, memang pengerjaanya dilakukan asal-asalan. Mengaduk semen hanya mengunakan cangkul. Hasil pekerjaan baru hitungan bulan jalan sudah rusak.

“Mengaduk semen tidak mengunakan molen, dilakukan cara manual. Yang lebih parah lagi pengerjaanya juga ngawur. Batu disebar terlebih dahulu dilokasi yang akan di rabad, baru setelah itu permukaan batu diberi semen, selanjutnya disiram air. Ini namanya pengerjaan ngawur.” Kata Sariyan.

Ketua Tim pengelola kegiatan (TPK) desa Pulorejo, Subari, saat dimintai konfermasi, ia mengaku tidak mengetahui masalah pengerjaan DD 2015 – 2017.

“Tahun 2015 – 2018 proyek DD dikerjakan oleh pak Kades sendiri, saya baru menangani proyek DD tahun 2018 ini. Jadi saya tidak tahu tentang dugaan proyek fiktif tahun 2016 tersebut.“ Kata Subari. Bersambung (rin)

Check Also

Sedot APBD 2018 Rp 1,2 M Jembatan Bambu Mangrove Mangkrak

SURABAYA, NusantaraPosOnline.Com-Janji Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini untuk menjadikan Jembatan Bambu yang bereda di Kawasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!