godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Minggu , Oktober 24 2021
Home / Daerah / Penegak Hukum Tutup Mata, Tambang Pasir Ilegal Menjamur Di OKI Sumsel
Diepanjang aliran Sungai di Desa Setapak, Kecamatan Teluk Gelam, Kab OKI nampak penambangan pasir ilegal yang menjamur, tanpa kantongi izin (IUP/IPR) dari pemerintah.

Penegak Hukum Tutup Mata, Tambang Pasir Ilegal Menjamur Di OKI Sumsel

OGAN KOMERING ILIR, NusantaraPosOnline.Com-Lima tahun belakangan iniaktivitas menambang pasir secara ilegal di wilayah aliran suangi Bumi Bende Seguguk terus menjamur. Hal ini terjadi karena tidak ada tindakan tegas dari penegak hukum setempat.

Hingga saat ini, aktivitas penambangan masih terjadi di beberapa titik lokasi yang selama ini menjadi area galian mereka, misalnya di Desa Setapak, Kecamatan Teluk Gelam, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI).

Tak tangung-tangung para pelaku penambangan pasir ilegal ini mengunakan peralatan ponton-ponton yang dilengkapi mesin diesel penyedot pasir, yang memiliki daya rusak sungai cukup tinggi di wilayah tesebut.

Menurut SW (50) salah seorang warga setempat, mengatakan bahwa aktivitas penambanhan pasir secara ilegal ini sudah lama beroperasi dan diperkirakan sudah berjalan lebih kurang 4 hingga 5 tahun belakangan ini.

“Penambangan pasir Ilegal ini sempat berhenti sebentar lantaran adanya petugas yang mendatangi lokasi bersama dengan masyarakat. Namun tak ada satupun pelaku yang ditindak tegas secara hukum. Jadi para pelaku tidak jera, hanya berhenti sebentar, setelah itu penambang ilegal ini terus menjamur, sampai sekarang.” Ujarnya SW. Minggu  (26/7/2021)

SW menyebutkan, warga sudah sangat resah dengan adanya penambangan pasir yang ada di Desa Serapek, Kecamatan Teluk Gelam tersebut, karena karena dapat menyebabkan kerusakan terhadap lingkungan. Apalagi saat ini penambang pasir yang beroperasi bertambah banyak.

“Jumlahnya penambang bertambah banyak dari sebelumnya. karena hal ini tidak adanya tindakan tegas dari pihak terkait kepada pengusaha tambang pasir ilegal ini. ” Ujarnya.

Sepengetahuan saya ujar SW,  penambangan pasir ini termasuk dalam kategori galian C jadi penambang harus memiliki izin (IUP/IPR) dari pemerintah atau pihak terkait. Penambangan galian C tanpa izin, termasuk perbutan pidana yaitu melanggar Undang-undang nomor 4 Tahun 2009 pasal 158 junto PP nomor 23 Tahun 2019 pasal 2 (2d), bisa dipidana paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp10 miliar.

“Jadi kami sangat menyangkan hal ini, adanya pembiaran oleh penegak hukum, dan pihak yang berwewenang lainya. Jadi kami berharap ada tindakan tegas dari penegak hukum.” Tegas SW.

Terkait hal tersebut Camat Teluk Gelam, Saparuddin, mengatakan, untuk tambang pasir yang berada diwilayah Kecamatan Teluk Gelam, khususnya di Desa Serapek, pada tahun 2018 lalu pihak kecamatan pernah melakukan upaya perundingan terhadap tambang pasir yang diduga ilegal tersebut, dengan bekerjasama dengan aparat keamanan dan masyarakat setempat.

“Dengan adanya upaya perundingan, aktivitas tambang pasir sempat terhenti kurang lebih selama satu bulan,” ujarnya.

Namun pasca berhentinya aktivitas tambang pasir yang diduga ilegal tersebut, perkembangan selanjutnya justru tambang pasir ini kembali beraktivitas dan malah semakin banyak. Sepengetahuan kami bahwa pertambangan pasir masuk dalam kategori galian C, yang aktivitasnya harus memperoleh izin terlebih dahulu dari Dinas Pertambangan Provinsi Sumatera Selatan dan pihak terkait lainya agar dapat beroperasi.

“Yang jelas kemampuan kami dari pihak kecamatan tidak memungkinkan untuk melakukan penutuppan, apa lagi mengambil tindakan tegas terhadap kegiatan tambang pasir yang ada diwilayah Kecamatan Teluk Gelam,” bebernya seraya menjelaskan bahwa, sejauh ini tidak ada laporan atau pemberitahuan kepada kami, apakah mereka telah mendapatkan izin atau tidak.

Mengenai dampak dari adanya tambang pasir tersebut jelas ada, dampak positifnya bagi masyarakat yakni terciptanya lapangan kerja bagi masyarakat sekitar.

Sedangkan untuk dampak negatifnya berpengaruh pada lingkungan dari pada masyarakat itu sendiri, karena dapat menyebabkan erosi ataupun longsor.

“Berdasarkan laporan yang pernah kita dengar dari masyarakat bahwa ada salah satu rumah milik masyarakat di Desa Serapek, hanyut terbawa arus sungai yang disebabkan oleh aktivitas pertambangan pasir tersebut,” Pungkasnya. (Jun)

Check Also

Hambat PTSL Sejak 2019, Kades Di Nganjuk Didemo Warga

NGANJUK, NusantaraPosOnline.Com-Ratusan warga Desa Ngepung Kecamatan Patianrowo Kabupaten Nganjuk, Jawa timur, menggeruduk kantor Kepala desa …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!