JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya (Polda Metro Jaya) akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada masyarakat luas setelah penyelenggaraan acara “Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia 2026” di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, memicu polemik besar di ruang publik.
Acara yang digelar untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-98 tersebut menjadi sorotan tajam menyusul terungkapnya skandal penggunaan massa bayaran berbaju almamater kampus secara tidak sah.
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menyatakan bahwa pihak kepolisian menerima seluruh kritik dan masukan dari masyarakat dengan lapang dada. Kepolisian menegaskan akan menjadikan peristiwa ini sebagai bahan evaluasi total agar tidak terulang di masa mendatang.
“Kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh lapisan masyarakat atas kegaduhan yang terjadi terkait acara Deklarasi Sumpah Pemuda kemarin. Sama sekali tidak ada niat dari kami untuk memecah belah atau mencederai nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda yang menjunjung tinggi persatuan,” ujar Budi Hermanto dalam keterangannya, Sabtu (31/10/2026).
Gelombang kritik dari netizen dan elemen mahasiswa mulai memuncak setelah beredarnya video wawancara para peserta di lokasi acara yang tampak kebingungan saat ditanya mengenai identitas kampus mereka. Salah satu peserta yang mengenakan jaket almamater Universitas Dian Nusantara (Undira), Bayu Setiadi alias Dino, bahkan sempat menjawab berasal dari “Kampus PSI” setelah dibisiki rekannya.
Setelah video tersebut viral, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undira langsung bergerak melakukan penelusuran. Dalam video klarifikasi bersama pihak BEM, Bayu mengakui bahwa dirinya sama sekali bukan mahasiswa. Ia datang ke Bundaran HI karena diajak oleh sebuah komunitas dengan iming-iming bayaran uang transpor sebesar Rp50.000, sementara jas almamater diberikan langsung oleh pihak panitia penyelenggara di lokasi.
Hal senada diakui oleh Sari, perempuan yang bertindak memimpin pembacaan teks deklarasi di podium dengan mengenakan almamater Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Sari mengklarifikasi bahwa dirinya sudah tidak aktif sebagai mahasiswa dan jaket tersebut didapatkan dari orang tak dikenal di lapangan. Menanggapi fenomena ini, Polda Metro Jaya menyatakan tengah melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk mengusut tuntas asal-usul pengadaan almamater palsu dan pengerahan massa tersebut.
Acara deklarasi tersebut juga menuai sorotan karena dihadiri oleh sejumlahfigur publik, di antaranya Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, serta pembuat konten Willie Salim. Kehadiran para tokoh ini sempat dikritik publik karena dinilai sebatas seremoni pencitraan di lingkaran kekuasaan.
BACA JUGA:
Merespons hal itu, Raffi Ahmad mengklarifikasi bahwa kehadirannya murni untuk memenuhi undangan mendadak yang dikirimkan pihak kepolisian pada malam sebelum acara, tanpa keterlibatan dalam urusan teknis kepesertaan. Sementara itu, Willie Salim juga menyampaikan permohonan maaf atas kelalaiannya dalam memverifikasi detail acara dan menegaskan tidak menerima bayaran atau keuntungan apa pun dari kehadirannya.
Polda Metro Jaya menegaskan bahwa keterlibatan para figur publik tersebut didasari oleh niat baik untuk mengajak generasi muda melawan hoaks dan provokasi demi persatuan bangsa. Pihak kepolisian juga membantah tudingan bahwa acara deklarasi yang melibatkan ratusan massa ini sengaja digelar sebagai aksi tandingan untuk meredam gelombang demonstrasi mahasiswa asli yang berlangsung satu hari sebelumnya di lokasi yang sama.***
Pewarta: MARWAN










