Hukrim  

KPK Akhirnya Tangkap Gubernur Papua Lukas Enembe

Gubernur Papua Lukas Enembe usai ditangkap KPK, memasuki pesawat yang menerbangkannya dari Papua. FOTO : Dok Polri.

JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Firli Bahuri, menyatakan bahwa KPK telah melakukan penangkapan terhadap Gubernur Papua Lukas Enembe (LE) pada Selasa (10/1/2023) pukul 12.27 WIT atau 10.27 WIB di Abepura Papua.

LE merupakan tersangka kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait proyek pembangunan infrastruktur di Provinsi Papua.

Dalam keterangan tertulis yang diterima Selasa (10/1/2023) Firli menceritakan kronologi penangkapan LE itu.

Dia menyebutkan, awalnya berdasarkan informasi yang diterima KPK, LE akan ke Mamit Tolikara pada Selasa (10/1/2023) melalui Bandara Sentani, Jayapura.

KPK menduga itu bisa jadi salah satu upaya LE untuk meninggalkan Indonesia.

“Mendapat informasi tersebut, maka kami menghubungi Wakil Kepala Kepolisian Daerah (Wakapolda) Papua, Komandan Satuan (Dansat) Brimob dan Kabinda untuk membantu upaya penangkapan LE di Bandara Sentani. Karena LE akan keluar Jayapura,” ungkap Firli.

Menurut Firli, LE pun akhirnya berhasil diamankan pukul 12.27 WIT atau 10.27 WIB di Abepura Papua, oleh tim KPK bekerja sama dengan aparat penegak hukum (APH) di Papua.

Selanjutnya kata Firli, LE dievakuasi ke Jakarta pada pukul 15.00 WIT (sekitar 13.00 WIB) dengan menggunakan Pesawat Trigana Air, dengan rute melalui Manado-Sulawesi Utara untuk selanjutnya dibawa ke Jakarta.

“Setelah tiba di Manado dilakukan penahanan oleh Polda Sulut untuk melakukan pengamanan, sebelum diterbangkan ke Jakarta. Setibanya di Jakarta LE akan dilakukan pemeriksaan kesehatan kesehatan di RSPAD Gatot Subroto dengan didampingi oleh tim KPK,” pungkas Firli.

Kronologi Penangkapan Versi Pengacara Lukas Enembe

Tim pengacara Lukas Enembe (LE), Roy Rening, menytakan bahwa pihaknya tak bersama kliennya LE saat terjadi penangkapan oleh KPK pada Selasa (10/1/2023).

Menurut Roy, kliennya ditangkap di rumah makan Sendok Garpu di Papua pada pukul 10.00 WIT (atau 08.00 WIB). Saat mendapatkan informasi penangkapan itu, Roy mengatakan timnya diinfokan Enembe langsung dibawa ke Mako Brimob Polda Papua.

Roy bersama tim pun menyambangi Mako Brimob untuk bertemu kliennya itu, namun nihil karena Lukas Enembe sudah dibawa ke Bandara Sentani untuk diterbangkan ke Jakarta.

“Kami tahu itu di Sendok Garpu kira-kira pukul 10.00 WIT. Jadi tadi dari Sendok Garpu dibawa ke Mako Brimob dulu.” Terang Roy dalam konferensi pers di Jayapura, Papua. Pada Selasa (10/1/2023).

Setelah itu kami sampai lagi di bandara, mau lima menit informasi lagi klien kami sudah terbang kira-kira pukul 2 siang. Sambung Roy.

Selain itu, Roy mengaku tidak mengetahui jumlah aparat yang dibawa KPK untuk menjemput paksa Lukas.

Ditempat yang sama, anggota tim pengacara Lukas Enembe lainnya, Petrus Bala Pattyona juga mengatakan pihaknya tak tahu siapa yang sedang bersama kliennya saat Lukas ditangkap KPK.

“Benar klien kami ditangkap di rumah makan. Namun dengan siapa, dan seperti apa saat penangkapan. Hal ini belum kami ketahui secara pasti.” ujarnya.

Petrus mengatakan pihaknya meminta KPK mempertimbangkan kesehatan Lukas Enembe, juga permohonan dari keluarga untuk bisa dirawat di Singapura. Minta keluarga Lukas Enembe bisa dampingi

Roy Rening menilai kliennya perlu didampingi keluarga usai dibawa Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ke Jakarta. Roy menyebut pihaknya akan segera menyusul Lukas ke Jakarta.

Pada Selasa ini, kata dia, pihak kuasa hukum berkoordinasi dengan istri dan anak Lukas untuk menjelaskan apa yang akan terjadi.

“Menurut kami, keluarga perlu ada ke sana untuk mendampingi bapak. Karena bapak ini tidak bisa sendiri harus ada yang urus. Sangat tergantung dengan orang-orang dekat dia yang selama ini dia urus,” ujar Roy.

Upaya tersebut dilakukan agar kondisi kesehatan Lukas dapat menjadi prima. Roy mengkhawatirkan kondisi kesehatan Lukas agar tidak sampai turun atau drop.

“Jadi kita mau koordinasi supaya ada keluarga yang bisa secara intensif mendampingi beliau di rumah sakit setelah dilakukan pemeriksaan oleh dokter KPK.” jelas Roy.

Sebelumnya, Sebelumnya, dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait proyek pembangunan infrastruktur di Provinsi Papua. KPK  telah menetapkan LE bersama Direktur PT Tabi Rijatono Lakka (RL) sebagai tersangka.

Tersangka Rijatono Lakka (RL) sebagai pemberi suap disangkakan melanggar melanggar Pasal 5 ayat (1) atau Pasal 5 ayat (2) dan Pasal 13 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001.

Sedangkan tersangka LE sebagai penerima disangkakan melanggar Pasal 12 huruf a atau b atau Pasal 11 dan Pasal 12B Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001. (Bd)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!