Perekat Nusantara Dan TPDI Minta Anwar Usman Dipecat Tidak Hormat

Ilustrasi putusan MK terkait batas usia capres-cawapres yang kontroversial. (FOTO : Dok Nusantara Pos)

JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Pergerakan Advokat Nuaantara (Perekat Nusantara) dan Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) mendesak Anwar Usman diberhentikan tidak hormat dari jabatan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK), buntut putusan MK terkait batas usia capres-cawapres yang kontroversial, Kamis (26/10/2023).

Koordinator Perekat Nusantara dan TPDI Petrus Selestinus menjelaskan, bahwa enam butir fakta dan esensi laporan terhadap kasus dugaan pelanggaran kode etik dan perilaku hakim atas nama terlapor Anwar Usman, dan laporan ini telah dilakukan dalam persidangan Pemeriksaan Pendahuluan, Perkara No. 2/MKMK/L/ ARLTP/10/2023 pada Rabu, 1 November 2023.

Dari enam butir fakta-fakta peristiwa pelanggaran yang diduga dilakukan oleh Anwar Usman yang diungkap dalam persidangan pendahuluan, menurut Petrus Selestinus, Perekat Nusantara dan TPDI meminta agar pelanggaran etika Anwar Usman dikategorikan sebagai pelanggaran berat, karena didukung bukti-bukti autentik. Karena itu, kata dia, Anwar beralasan untuk diberi sanksi berat yaitu Pemberhentian Tidak Dengan Hormat.

BACA JUGA :

“Sanksi berat ini merupakan sanksi yang setimpal, karena masyarakat bahkan DPR sudah mengancam akan memakzulkan Presiden Jokowi karena memperalat MK untuk kepentingan dinasti politiknya, yaitu Gibran jadi cawapres. Dan pengamananya adalah di MK jika kelak hasil pilpres di bawa ke MK karena di sana ada om dan ipar, yakni Anwar Usman,” kata Petrus Selestinus dalam keterangan tertulisnya yang dibagikan Kamis, 2 November 2023.

Petrus Selestinus juga meminta Ketua Majelis Kehormatan MK Jimly Asshiddiqie mengklarifikasi alasan mempercepat proses persidangan dan akan memutus semua laporan Pelapor pada tanggal 7 November 2023.

“Apakah karena tanggal 8 November KPU akan menetapkan pasangan calon dll. Jika demikian maka Perekat Nusantara dan TPDI keberatan, karena itu berarti MK MK bekerja tidak independen dan di bawah kendali proses politik di KPU demi kepentingan Gibran dan Istana,” kata Petrus Selestinus.

Jimly Asshiddiqie sebelumnya menjelaskan bahwa percepatan proses dan agenda putus tanggal 7 November 2023 itu untuk segera menjawab tuntutan publik. Majelis Kehormatan MK sudah memiliki bukti cukup dan keyakinan untuk segera memutus perkara pelanggaran etik hakim konstitusi Anwar Usman.

Berikut ini, enam butir fakta dan esensi yang menjadi laporan oleh Perekat Nusantara dan TPDI. Isi bukti tersebut adalah :

  1. Terdapat fakta yang notoire feiten bahwa hakim terlapor Anwar Usman ketika memimpin persidangan hingga memutus Perkara Uji Materiil pasal 169 huruf q UU No. 7 Tahun 2017, Tentang Pemilu berada dalam conflict of interest, karena terdapat hubungan keluarga semenda sebagai ipar dari Jokowi.
  2. Petrus Selestinus mengatakan dalam perkara No.90/PUU-XXI/ 2023, Presiden Jokowi adalah Pihak Pemberi Keterangan dalam perkara Uji Undang-Undang dimaksud dan Gibran Rakabuming Raka selaku putra sulung Jokowi. Kepentingannya diperjuangkan dalam proses Uji Materiil perkara No.90/PUU-XXI/2023 dan Perkara No.91/PUU-XXI/2023.
  3. Petrus Selestinus mengatakan, baik Presiden Jokowi maupun pemohon tidak menyatakan keberatan dan meminta hakim konstitusi Anwar Usman untuk mundur dari persidangan Perkara No.90-91/PUU-XXI/2023. Namun, Anwar Usman tidak pernah menyatakan mengundurkan diri dari persidangan perkara itu.
  4. Perkara No.90-91/PUU-XXI/2023, Petrus Selestinus mengatakan sebelumnya pernah dicabut, namun dua hari kemudian dibatalkan pencabutannya dan didaftar kembali. Padahal menurut hukum acara MK, perkara yang sudah dicabut tidak dapat didaftarkan lagi.
  5. Putusan Perkara No.29-51-55/PUU-XXI/2023, mayoritas hakim menolak Permohonan Uji Materil pasal 169 huruf q UU No. 7 Tahun 2017, dengan alasan hal itu merupakan kewenangan open legal policy dari DPR dan Pemerintah, sementara itu terhadap perkara No. 90/PUU-XXI/2023 yang obyeknya sama dan diproses dalam waktu yang bersamaan ko putusannya berbeda 180 derajat.
  6. Ada perbedaan sikap hakim Anwar Usman yaitu dalam Rapat Permusyawaratan Hakim (RPH) perkara No. 29-51-55/PUU-XXI/2023 tidak pernah hadir dengan alasan menghindari conflict of interest, namun dalam RPH perkara No. 90/ PUU-XXI/2023, Anwar Usman ikut aktif sidang dan melobby hakim-hakim lain serta membantah ketidak hadirannya pada RPH Perkara No. 29-51-55/PUU-XXI/ 2023 karena sakit bukan karena menghindari conflict of interest.****

Editor : Budi W

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!