godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Selasa , Juni 22 2021
Home / Investigasi / Proyek Pemeliharaan Alarm Warning System Dishub Jatim, Jadi Lahan Korupsi
Perlintasan kereta api tanpa palang pintu di Kecamatan Ngadiluwih yang dilengkapi Alarm Warning System tahun 2018 mendapat dana perawatan dari Dishub Jatim.

Proyek Pemeliharaan Alarm Warning System Dishub Jatim, Jadi Lahan Korupsi

SURABAYA, NusantaraPosOnline.Com-Proyek  Pemeliharaan dan Perawatan Berat Alarm Warning System (AWS) yang berada di DAOP VII (2 unit), milik Dinas perhubungan Provinsi Jawa timur, yang dibiayai dari APBD Jatim tahun 2018 sebesar Rp 1,6 milyar, diduga telah menjadi lahan korupsi oleh Pejabat Dishub jatim.

Proyek tersebut berlokasi di dua titik, yaitu diperlintasan kereta api Kecamatan Ngadiluwih Kediri, dan diperlitasan kereta api di kecamatan Widoren Kabupaten Ngawi. Proyek ini dimenangkan (dikerjakan) PT Angga Panji Wibowo selaku pemenang lelang.

Menurut Bakri, salah seorang warga Kediri anggaran Rp 1,6 untuk perawatan dua titik AWS tersebut terlalu kebesaran, itu anggaranya sudah terjadi mark-up angaran oleh Dishub Jatim. Karena anggaran segitu sudah dapat untuk pembelian perangkat AWS yang baru. AWS inikan berfungsi untuk memberikan tanda-tanda peringatan dini di perlintasan kereta api tanpa penjagaan resmi.

“Kalau tidak percaya coba anda cek sendiri harganya, di pabrik-pabrik produsen AWS. Di Kediri dan di Blitar ada pabriknya yang memproduksi AWS. Kalau membeli langsung kepabrinya peralatan perangkat AWS ini murah. Dengan anggaran Rp 1,6 milyar, itu sudah cukup untuk membeli perangkat AWS yang baru. Dan biasanya setiap pembelian, sudah termasuk ongkos pasang (Yang memasang dari pihak pabrik) pembeli cuman duduk manis. Memang biasanya akan sangat beruntung kontraktor, yang mendapatkan proyek ini dari Dinas. Karena tak perlu keluar keringat, tapi dapat untung besar.” Kata Bakri.

Menurut dia, oleh karena itulah biasanya proyek perlengkapan keselamatan lalu lintas, atau rambu-rambu lalu lintas, jadi lahan basah untuk melakukan praktek korupsi, anggaran. “Kalau aparat penegak hukum serius mau mengusut kasus AWS ini, nanti pastikan ketahuan borok proyek ini.” Kata Bakri.

Bakri juga menyebutkan, kalau tidak salah proyek AWS di perlintasan Kereta api di kecamatan Ngadiluwih, itu dipasang pada tahun 2014 lalu. “Setelah pemasangan hanya menyalah atau berfungsi beberapa bulan. Setelah itu mati, bertahun-tahun baru diperbaiki tahun 2018.” Imbuhnya.

Hal yang hampir senada diungkapkan Harjono, warga Kecamatan Ngadiluwih, Kediri, ia mengatakan, AWS ini sudah lama dipasang. “Ya memang pemasangan AWS di Ngadiluwih, ini sudah lama. AWS ini cuman menyala sekitar 2 bulan, terus mati semua. Tahun 2018 baru ada perbaikan.” Terang Harjono.

Ia menambahkan, warga sangat mengeluhkan perlintasan ini, karena kalau malam gelap, tidak ada penerangan lampu. “Diperlintasan memang ada lampu tenaga surya (Bio Solar) lampunya Tenaga surya (Bio solar) tapi sudah lama mati sampai sekarang ini. Tahun 2018 kemarin lampu penerangan tidak ikut diperbaiki.

“Masak anggaran perawatan sebesar Rp 1,6 Milyar, yang diperbiki cuman AWS, itupun perbaikan AWS tersebut mungkin hanya nyambung-nyambung kabel yang putus saja. Jadi Dishub ini sangat keterlaluan. Rakyat kecil cuman dibodohi. Proyek seperti ini dijadikan oknum pejabat Dishub sebagai lahan korupsi.” Ucapnya.

Pantauan dilapangan, memang kondisi AWS diperlintasan kereta api di Ngadiluwih dan Widodaren, paska diperbaiki memang sekarang masih menyala. Tapi perangkat tiang-tiang lampu dan gardu kontrol perangkat AWS ini terlihat kusam, hingga tampak seperti tidak pernah dirawat. Lampu penerangan jalanpun yang ada diperlintasan kereta api ini mati.

Terkait hal tersebut pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sherlita RD Agus MIP yang saat ini menjabat sebagai Kepala Bidang Transportasi dan Keselamatan Jalan, sulit untuk dimintai konfirmasi. (rin)

Check Also

Ruwet, Sudah Bayar Rp 175 Ribu, Ratusan Warga Di Jombang Geruduk Kantor Kades, Tuntut Kejelasan Sertifikan PTSL

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Khoiman, Kepala desa Tebel, Kecamatan bareng, Kabupaten Jombang, Jawa timur, kini dibuat pusing memanen …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!