godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Selasa , November 24 2020
Home / Investigasi / Sudah 2 Tahun Lebih Keranjang Ikan Dan Gerobak Rp 4,4 M Bantuan Hibah DKP Jatim Mangkrak Tak Berguna
PENGUASA : Sekda Prov Jatim Dr Ir Heru Tjahjono MM (Mantan kepala DKP Jatim 2014–2018). Nampak juga keranjang ikan milik salah satu KUB nelayan, bantuan hibah Dari DKP Jatim tahun 2017, yang mangkrak.

Sudah 2 Tahun Lebih Keranjang Ikan Dan Gerobak Rp 4,4 M Bantuan Hibah DKP Jatim Mangkrak Tak Berguna

SURABAYA, NusantaraPosOnline.Com-Proyek pengadaan / pembelian 6.303 trays (Keranjang ikan), dan 44 buah trolly  (Gerobak dorong) pada Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur tahun 2017 lalu terus menjadi sorotan Lsm Aliansi Rakyat anti korupsi (Lsm Arak).

Pasalnya keranjang ikan dan trolly tersebut sejak dibeli tahun 2017 lalu, sampai hari ini mangkrak tak berguna.

Koordinator Lsm Arak, Safri nawawi, mengatakan tahun 2017 lalu DKP Provinsi Jatim, mengadakan kegiatan pengadaan 6.303 keranjang ikan, dan 44 buah trolly. Keranjang ikan dan trolly tersebut untuk bantuan hibah kepada 11 Kelompok usaha bersama (KUB) nelayan yang ada di kabupaten Trenggalek.

Proyek dibiayai APBD Jatim tahun 2017 sebesar Rp 4.400.000.000. Lelang proyek dimenangkan CV Putra Jaya. keranjang ikan yang dibeli tersebut merek ‘Craemer’ tersebut didatangan dengan cara impor dari Jerman.

MANGKRAK : Keranjang ikan milik salah satu KUB nelayan, bantuan hibah Dari DKP Jatim tahun 2017, yang ditumpuk di depan rumah pengurus KUB yang mangkrak sejak 2017 sampai sekarang.

“6.303 buah keranjang ikan, dan 44 gerobak dorong, dari hasil pengadaan tersebut tiba di Pelabuhan pendaratan ikan (PPI) Prigi, pada pertengahan Nopember 2017. Penandatanganan berita acara serah terima bantuan Keranjang  ikan dan trolly  dari DKP Jatim kepada 11 KUB nelayan kabupaten Trenggalek, dilakukan di PPI Prigi, pada Kamis 23 Nopember 2017.” Kata Safri.

Selanjutnya Keranjang ikan dan trolly tersebut baru diserahkan kepada 11 KUB nelayan pada pertengahan Desember 2017. “Keranjang ikan dan trolly bantuan hibah DKP Jatim sejak diterima nelayan akhir 2017 sampai sekarang tidak dipergunakan, hanya mangkrak tak berguna sama sekali. Oleh karena itulah proyek ini terus kami persoalkan. Sudah dua tahun lebih mangkrak.” Kata Safri.

Safri, mengaku setiap kami ke kabupaten Trenggalek, kami selalu memantau pengunaan bantuan ini. “Bahkan kami bekerja sama dengan wartawan yang rumahnya berada didekat PPI Prigi. Setiap kami telpon wartawan yang bekerja sama dengan kami selalu melaporkan perkembangan terakhir pemanfaatkan keranjang ikan dan trolly tersebut. Dan sampai sekarang keranjang ikan dan troll tersebut masih mangkrak. Tidak pernah digunakan untuk mengangkut ikan.” Terang Safri.

Bahkan keranjang ikan impor, bantuan hibah DKP ini sudah banyak yang rusak dan pecah. “Keranjang ikan oleh KUB penerima bantuan hanya ditumpuk didepan rumah tanpa diteduhkan. Jadi kena hujan dan panas sehingga keranjang cepat rusak.” Terang Safri.

BANTUAN HIBAH DKP JATIM 2017 : Keranjang ikan impor bantuan DKP merek ‘Craemer’ milik salah satu KUB Nelayan Trenggalek, yang mangkrak hanya ditumpuk. Sejak 2017 sampai sekarang mangkrak.

Menurut Safri, kondisi ini mencermikan bahwa pengelolaan anggaran di DKP Jatim dan mental pejabat DKP Jatim sangat bobrok. Kami menilai proyek pengadaan Keranjang ikan dan trolly yang dibiayai APBD Jatim 2017 sebesar Rp 4,400 milyar, ini adalah proyek akal-akalan pejabat DKP Jatim. Bukan berdasarkan kebutuhan dan kebutuhan nelayan  “Kalau proyek ini berdasarkan permintaan / usulan nelayan  di Trenggalek, tidak mungkin proyek ini mangkrak sampai sekarang. Kan tidak mungkin nelayan minta bantuan kepada DKP Jatim, setelah diberi bantuan keranjang dan trolly kenudian tidak digunakan.  Jadi yang ngotot untuk membeli keranjang impor dan troly tersebut adalah kelakuan pejabat DKP Jatim.” Ujar Safri.

Kami sangat menyayangkan hal ini APBD Jatim Rp 4,400 milyar lenyap, tapi tidak membawa manfaat bagi masyarakat. Yang paling bertangung jawab pada proyek ini adalah Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur Dr. Ir. Heru Tjahjono, M.M. Sejak tahun 2014–2018 kepala DKP Jatim dijabat Heru Tjahjono.

“Jadi sangat disayangkan boro-boro Heru Tjahjono diberi sangsi tegas oleh Gubernur, malah ia dinaikan jabatan. Sejak 25 September 2018 sampai sekarang ia menduduki jabatan Sekda Provinsi Jawa timur. Jadi hal ini sangat kami sayangkan.” Kata Safri.

Menurut salah seorang pengurus KUB nelayan Kabupaten Trenggalek, yang wanti-wanti keberatan disebutkan namanya dalam pemberitaan, mengatakan setahu saya tidak ada usulan dari KUB nelayan untuk meminta bantuan keranjang ikan impor dan trolly kepada DKP Jatim.

“Tapi bagi KUB kami ya diberi bantuan ya kami terima saja. Terlepas nantinya bantuan keranjang dan trolly untuk apa, itu urusan nanti. Diberi bantuan ya kita terima, masak kita tolak.” Kata dia.

BANTUAN HIBAH DKP JATIM 2017 : Keranjang ikan impor bantuan DKP merek ‘Craemer’ milik salah satu KUB Nelayan Trenggalek, yang mangkrak hanya ditumpuk. Sejak 2017 sampai sekarang mangkrak.

Lalu kenapa keranjang ikan bantuan tersebut tidak digunakan ? “Kalau mengunakan keranjang bantuan DKP muatanya ikan sedikit sekitar 40 Kg.  Biasanya nelayan di PPI Prigi mengunakan keranjang ikan dari rotan yang muatannya banyak bisa 100 Kg. Sedangkan untuk mengangkut ikan dari kapal ke PPI jaraknya hanya kisaran 20 meter. Mengunakan jasa kuli panggul (kuli angkut). Jadi kalau mengunakan keranjang bantuan DKP mengakutnya ikan akan lebih lama, karena harus bulak-bali lebih banyak. Ongkos angkutpun akan lebih mahal. Oleh karena itulah keranjang impor bantuan DKP tidak ada nelayan yang pakai.” Kata sang nelayan.

Disamping biaya angkut mahal, keranjang ikan bantuan DKP berbahan plastik kaku, saat kuli angkut mengngakat keranjang ikan dari kapal ke PPI kesulitan. Tapi kalau mengunakan keranjang rotan kan ada tempat untuk memasukan kayu. “Keranjang ikan dari rotan bisa dipikul dengan kayu. Sedangkan keranjang impor bantuan DKP tidak bisa. Memang oleh DKP kami diberi bantuan trolly (gerobak dorong). Tapi medan jalan dari kapal ke PPI itukan licin dan tidak rata jadi tidak bisa pakai gerobak kecil. “Jadi oleh karena itulah keranjang impor dan trolly bantuan DKP tahun 2017 lalu tidak terpakai.” Jelasnya.

Lalu kenapa keranjang bantuan DKP hanya ditumpuk dilapangan terbuka, kehujanan kepanasan. Apa tidak takut hilang ? “Kalau disimpan didalam rumah atau di teras rumah, kan memakan tempat. Ngebek-ngebei engon (bikin sesak tempat rumah saja). Oleh karena itu lah Keranjang ikan kita taruh saja dikebun. Itu tidak akan mungkin hilang, pencuri saja tidak doyan dengan keranjang ikan tersebut. Jadi tidak akan hilang.” Katanya.

Terkait hal tersebut sampai berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi resmi dari pihak DKP Jatim. (Rin)

Check Also

Sedot APBD 2018 Rp 1,2 M Jembatan Bambu Mangrove Mangkrak

SURABAYA, NusantaraPosOnline.Com-Janji Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini untuk menjadikan Jembatan Bambu yang bereda di Kawasan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!