godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Senin , November 23 2020
Home / Hukrim / Korupsi Normalisasi Sungai, Kepala Disperindag Mojokerto Ditahan Kejari
Kepala Disperindag Kab Mojokerto Didik Pancaning Argo (Tengah), dikeler menuju tahanan. Rabu (5/8/2020).

Korupsi Normalisasi Sungai, Kepala Disperindag Mojokerto Ditahan Kejari

MOJOKERTO, NusantaraPosOnline.Com- Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Mojokerto menahan tersangka kasus normalisasi sungai di dua kecamatan di Kabupaten Mojokerto, Didik Pancaning Argo. Rabu (5/8/2020).

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mojokerto ini ditahan setelah menjalani pemeriksaan selama kurang lebih 5 jam. di ruang Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kabupaten Mojokerto pasca berkas perkara dilimpahkan dari Polda Jawa Timur. Penetapan tersangka oleh Ditreskrimsus Polda Jawa Timur pada bulan Januari 2020 lalu.

Didik ditahan terkait kasus saat dirinya masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pekerjaan Umum Pengairan tahun 2016 lalu.

Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasi Pidsus) Kejari Kabupaten Mojokerto, Rahmat Hidayat mengatakan, pihaknya menerima berkas perkara dari penyidik Polda Jawa Timur, Rabu (5/8/2020).

“Hari ini ada tahap II dari penyidik Polda terkait kasus Dinas Pengairan atas nama Didik PA yang sekarang menjabat sebagai Kepala Disperindag Kabupaten Mojokerto,” Teranya.

Hari ini, lanjut Kasi Pidsus, tersangka dilakukan penahanan di rutan Mapolres Mojokerto untuk 20 hari ke depan. Kasus tersebut terjadi saat tersangka menjabat sebagai Kepala Dinas Pengairan Kabupaten Mojokerto tahun 2016 – 2017. Kasus yang membelit tersangka itu yakni pelaksanaan proyek restorasi atau normalisasi daerah irigasi di Sungai Landaian dan Sungai Cetot di Kecamatan Jatirejo dan Kecamatan Gondang, Kabupaten Mojokerto.

“Dalam pelaksanaan proyek restorasi atau normalisasi tersebut ada pengambilan batu dari sungai yang kemudian atas perintah tersangka agar batu-batu yang diambil dari sungai tersebut dibawa ke salah satu perusahaan (CV Musika, prusahan milik keluarga eks Bupati Mojokerto Mustafa Kemal Pasha) di Mojokerto,” ungkapnya.

Ia menambahkan, dimana ada dua orang saksi yang mengirim batu tersebut. Kedua saksi menerima bayaran sebesar Rp500 juta lebih dan Rp 400 juta lebih. Padahal untuk pengelolaan normalisasi sungai Cetot merupakan kewenangan dari Kementrian PUPR. Tersangka memperkaya diri sendiri, orang lain atau perusahaan (CV Musika),” katanya.

Hasil audit dari perbuatan tersangka ada kerugian negara sebesar Rp1.030.135.995.

“Untuk saat ini masih ada satu tersangka, kita lihat di persidangan nanti, jika ada tersangka lain ya ada tersangka baru. Intinya dia yang mengarah ke perusahaan atas keterangan saksi. Eksplorasi tahun 2016-2017, selama dua tahun di Sungai Landaian dan Sungai Jurang Cetot di Kecamatan Jatirejo dan Gondang. Kita belum tahu tersangka mendapatkan berapa, kita lihat di persidangan,” jelasnya.

Tersangka disangkakan melanggar Pasal 2 ayat (1) Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Perbuatan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Perbuatan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke 1 KUHPidana. (Bm)

Check Also

Jual Senpi Rakitan Ke Polisi, Preman Bertato Di Palembang Dibekuk Polisi

PALEMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Belum sempat menyelesaikan transaksi jual-beli senjata api (Senpi) rakitan, seorang preman bernama Rico Dwi …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!