godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Rabu , November 25 2020
Home / Peristiwa / Hari Tanpa Bayangan Di Jatim, Kapan Dan Dimana ?

Hari Tanpa Bayangan Di Jatim, Kapan Dan Dimana ?

JAWA TIMUR, NusantaraPosOnline.Com-Wilayah Indonesia akan mengalami fenomena alam yang disebut sebagai hari tanpa bayangan. Nah, termasuk dibebera daerah di Jawa timur juga mengalami hal tersebut, berikut lokasi dan tanggal terjadinya fenomena ”Hari tanpa bayangan” atau kulminasi utama selama lima hari pada pertengahan Oktober 2019 diwilayah Jawa timur.

Hari tanpa bayangan di Jawa Timur (Jatim) terjadi sejak 11 Oktober 2019 hingga 15 Oktober 2019. Pada Jumat, 11 Oktober 2019, wilayah di Jawa Timur yang alami hari tanpa bayangan di Sumenep, Bangkalan dan Tuban.

Wilayah di Jawa Timur yang alami hari tanpa bayangan pada Sabtu, 12 Oktober 2019 antara lain di Surabaya pada pukul 11:15:46 WIB, Pamekasan pada pukul 11:12:42 WIB, Sampang pada pukul 11:13:37 WIB, Sidoarjo pada pukul 11:15:45 WIB.

Selanjutnya wilayah lain yang alami hari tanpa bayangan di Gresik pada pukul 11:16:10 WIB, Lamongan pada pukul 11:16:58 WIB, Bojonegoro pada pukul 11:19:06 WIB, dan Ngawi pada pukul 11:20:51 WIB.

Kepala Seksi Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I Juanda Surabaya, Teguh Tri Susanto menuturkan, kulminasi merupakan fenomena biasa.

Setiap tahun juga alami kulminasi atau hari tanpa bayangan. Kulminasi ini saat posisi matahari tepat berada di atas kepala dan merupakan posisi terdekat. Adapun kulminasi ini merupakan kulminasi kedua yang akan terjadi di Jawa Timur pada pertengahan Oktober 2019.

Hari tanpa bayangan merupakan fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat. Fenomena itu disebut sebagai kulimasi utama.

“Akan tetapi sedikit imbauan yang bisa kami sampaikan, karena posisi matahari paling tinggi di atas langit akan tepat beras di atas kepala pengamat, perlu diwaspadai potensi peningkatan suhu sekitar 0,5-1 derajat celsius dari normalnya yang berpotensi menyebabkan dehidrasi. Tetap menjaga kondisi dengan asupan air yang cukup bagi tubuh,” Katanya kepada wartawan, (12/10/2019).

Sebelumnya, Surabaya, Jawa Timur salah satu wilayah yang terkenal dengan cuaca panasnya. Pada awal Oktober 2019, suhu di Surabaya mencapai 35 derajat celsius.

Prakirawan Badan Meterologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Toni Setiawan menuturkan, suhu panas tersebut karena Surabaya masih masuk musim kemarau. Selain itu, kondisi posisi matahari juga berada di sebelah selatan sehingga lebih panas dari biasanya. Pada Oktober 2019 juga merupakan puncak musim kemarau.

“Sejak September matahari bergerak ke arah selatan. Daerah selatan Pontianak, Jawa, Sulawesi bagian selatan dan Kalimantan bagian selatan,” ujar Toni, kepada wartawan Jumat (11/10/2019).

Toni mengatakan, suhu di Surabaya maksimal 37 derajat celsius. Surabaya juga akan alami hari tanpa bayangan pada 12 Oktober 2019, pukul 11.15.46 WIB. Pada hari tanpa bayangan atau kulminasi itu, matahari tepat berada di atas kita. Hal ini juga membuat suhu di Surabaya akan lebih panas.

“Relatif panas 1-1,5 derajat celsius. Posisi matahari di atas kita, dan tidak ada bayangan,” ujar dia.

Toni menuturkan, saat hadapi hari tanpa bayangan waspadai dehidrasi dan air tanah akan turun. “Oleh karena itu waktu tepat untuk penggalian sumur,” katanya. (ags)

Check Also

Gatot Brajamusti Tewas Saat Jalani Hukuman Bui

JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Kabar duka kali ini datang dari Terpidana kasus narkoba dan kepemilikan senjata api, Gatot Brajamusti …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!