Peristiwa

Harga Cabai di OKU Makin Pedas Tembus Rp 80 Ribu

×

Harga Cabai di OKU Makin Pedas Tembus Rp 80 Ribu

Sebarkan artikel ini
FOTO Ilustrasi pedagang cabai. (Foto : dok istimewah).

Lonjakan harga ini membuat para pedagang dan ibu rumah tangga mengeluh, karena beberapa komoditas sayuran lain juga ikut merangkak naik akibat pasokan yang menipis.

OKU, NusantaraPosOnline.Com-Harga komoditas cabai di sejumlah pasar tradisional Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatra Selatan, dilaporkan melonjak signifikan hingga menyentuh angka Rp 80.000 per kilogram.

Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, Kamis (10/9/2026) seperti di Pasar KORPRI Baturaja, lonjakan harga ini terjadi pada jenis cabai setan (cabai rawit merah) dan cabai burung yang menjadi primadona konsumen. Kenaikan harga ini sudah merangkak naik secara bertahap sejak sepekan terakhir. Berikut rincian penyesuaian harga cabai terbaru di wilayah OKU :

  • Cabai Setan / Rawit Merah: Tembus Rp 80.000 per kilogram.
  • Cabai Burung: Melonjak menjadi Rp 80.000 per kilogram (sebelumnya Rp 70.000).
  • Cabai Merah Keriting: Naik menjadi Rp 60.000 per kilogram (sebelumnya Rp 55.000).

Lonjakan harga ini membuat para pedagang dan ibu rumah tangga mengeluh, karena beberapa komoditas sayuran lain juga ikut merangkak naik akibat pasokan yang menipis, akibat dampak musim kemarau yang melanda sentra produksi.

Sejumlah kebutuhan dapur mengalami kenaikan tajam, di antaranya : Buncis Rp25.000 per kilogram (sebelumnya Rp 15.000), Kubis Rp15.000 per kilogram (Sebelumnya Rp12.000).

Selanjutnya Jagung Rp17.000 per kilogram (Sebelumnya Rp10.000), Terong Rp 12.000 per kilogram (Sebelumnya Rp 7.000), Kacang panjang dikisaran Rp 10.000 perikat.

Selain harganya yang mahal, kelangkaan pasokan juga melanda beberapa jenis sayuran lokal seperti sawi, bayam, hingga labu siam yang terpantau kosong di tingkat pedagang pasar.

Salah seorang pedagang sayur di Pasar KORPRI, Santi mengaku resah dan bingung dengan kondisi pasokan saat ini.  

Kenaikan harga terjadi secara menyeluruh, terutama untuk pasokan yang didatangkan dari luar wilayah OKU seperti Liwa dan Danau Ranau yang menjadi sentra produksi sayur.  “Berapo lagi kami jual, sayur-sayur naik galo,” keluh Santi dengan nada bingung.

Keluhan serupa turut dirasakan oleh para konsumen rumah tangga. Selain harus merogoh kocek lebih dalam, kualitas sayur-mayur yang tersedia di pasaran pun dinilai kurang begitu baik akibat cuaca ekstrem.

Menyikapi gejolak harga pangan ini, Pemkab OKU melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) rutin menggelar gerakan pangan murah terjangkau.

Melalui operasi pasar tersebut, komoditas penting seperti cabai, telur, ikan, beras, serta bawang putih dan merah dijual di bawah harga pasaran.

Di sisi lain, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga terus menggencarkan kegiatan inspeksi mendadak (sidak) guna mengontrol stabilitas harga di pasaran. ***

Pewarta : DESI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!