Hukrim  

NU-Muhammadiyah Jombang : Polisi Harus Tuntaskan Kasus Dugaan Pencabulan Santri Wati, Yang Jerat MSAT

Pengahadangan Polisi Di Ploso Jombang
Sejumlah massa pendukung MSAT yang melarang petugas Polda Jatim, untuk masuk ke lingkungan Pesantren di Ploso Jombang. Kamis 13 Januari 2021

JOMBANG, NusantaraPosOnline.Com-Ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah Kabupaten Jombang, kompak meminta polisi segera menuntaskan kasus dugaan pencabulan santriwati, yang dilakukan putra kiai berinisial MSAT.

Hal tersebut bertujuan untuk menegakkan keadilan, dan agar tidak menodai citra pesantren.

Ketua PCNU kabupaten Jombang KH Salman Yazid meminta polisi segera menuntaskan kasus pencabulan santriwati yang diduga dilakukan MSAT. Sehingga proses hukum kasus tersebut tidak berlarut-larut.

“Saya atas nama Ketua NU Kabupaten Jombang terkait dengan kasus pencabulan yang dilakukan oleh salah satu anak kiai di Jombang, saya mohon atas nama masyarakat Jombang mohon kepada kepolisian untuk menegakkan proses hukum yang ada, biar proses ini tidak berlarut-larut karena sudah lama, sudah hampir dua tahun lebih,” Tutur Kiai Salman kepada wartawan, Kamis (13/1/2022).

Pengasuh Ponpes Babussalam di Dusun Kalibening, Desa Tanggalrejo, Kecamatan Mojoagung, Jombang ini meminta polisi menuntaskan kasus pencabulan santriwati tersebut seadil-adilnya. Jika tidak, citra pesantren akan menjadi buruk.

DPO Kasus Dugaan Pencabulan Santri Wati di Jombang
Surat DPO yang dikeluarkan Polda Jatim bertanggal 13 Januari 2022

“Saya mohon pihak kepolisian segera menuntaskan kasus ini karena kalau tidak dituntaskan akan membuat jelek terhadap citra pesantren di Jombang. Agar masalahnya terang benerang proses hukum harus ditegakkan seadil-adilnya.” Kata Kiai Salman.

Dengan proses hukum yang terang dan adil, Kiai Salman berharap kasus pencabulan yang diduga dilakukan MSAT tidak dicampur aduk dengan kepentingan pesantren.

“Agar hal ini tidak berimbas kepada (pesantren) yang lain, dengan proses yang semakin jelas, pada akhirnya nanti antara kasus pribadi dengan kasus pesantren agar tidak campur aduk, antara kasus pribadi anak kiai dengan pesantren. Biar ada pilah-pilahnya. Untuk itu sekali lagi kepada pihak kepolisian yang menangani untuk segera menuntaskan kasus yang ada di Jombang ini,” Ungkapnya.

Sementara itu Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Jombang Abdul Malik juga menyatakan mendukung polisi menangani kasus pencabulan santriwati yang diduga dilakukan MSAT, dengan seadil-adilnya. Sehingga bisa melindungi rasa keadilan masyarakat, juga untuk menjaga citra pesantren.

“Pada prinsipnya Muhammadiyah selaku ormas keagamaan tentu sangat berharap agar selalu berpijak pada amar maruf nahi mungkar. Oleh karena itu, tentu terkait masalah-masalah seperti itu ada pihak yang berkewajiban menegakkan keadilan itu. Sehingga rasa keadilan masyarakat menjadi terlindungi. Kami selaku bagian dari masyarakat yang kebetulan kami bergerak di bidang keagamaan, maka sangat berharap betul dan mendukung kepolisian untuk menegakkan hukum seadil-adilnya,” Tutur Malik.

Malik juga menanggapi aksi ribuan santri yang menjaga ketat ponpes di Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang untuk mencegah polisi menjemput MSAT. Menurutnya, pondok pesantren maupun lembaga pendidikan keagamaan lainnya harus tunduk pada proses hukum.

“Lembaga keagamaan, apakah itu sekolah agama maupun pondok pesantren seharusnya lebih tunduk terhadap proses hukum. Karena mereka itu menjadi contoh bagi umat dan jemaahnya,” Ungkapnya.

Malik juga meminta pihak kepolisian atau penegak hukum, tidak tebang pilih dalam menjalankan proses hukum.

“Bahkan kepolisian tidak boleh membeda-bedakan. Karena itu kami mendorong dan mendukung agar Kapolri segera menegakkan itu. Karena sudah ditunggu masyarakat, sudah menjadi rahasia umum kan,” tambahnya.

Berkas perkara kasus pencabulan santri wati yang diduga dilakukan MSAT sudah dinyatakan lengkap (P21) oleh Kejaksaan Tinggi Jatim pada 4 Januari 2022. Polda Jatim menyebut, MSAT sudah dua kali mangkir dari panggilan penyidik.

Bahkan massa pendukung MSAT, pada hari Rabu 13 Januari 2022 sempat menghadang atau menghalang-halangi petugas kepolisian, saat akan mengantarkan surat panggilan kepada tersangka MSAT di pesantren di Desa Losari Kecamatan Ploso, Kabupaten Jombang. Yang menyebabkan petugas Kepolisian gagal menyerahkan surat panggilan kepada tersangka MSAT.

Diberitakan sebelumnya Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Timur telah menerbitkan status daftar pencarian orang (DPO) terhadap MSAT (40), putra kiai sepuh di Jombang, yang jadi tersangka dugaan kasus pencabulan santriwati. Surat DPO tesebut dikelurkan pada tanggal 13 Januari 2022. (Rin)

Baca Sebelumnya :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!