godaddy

pizzahut

bluehost

shopclues

bookmyshow

globalnin.com

Minggu , September 27 2020
Home / Hukrim / Peras LMDH Atas Nama Kejari, Pendamping Perhutani Ponorogo Terjaring OTT
Tersangka Lukman Fariqin digiring petugas Kejari menuju tahanan

Peras LMDH Atas Nama Kejari, Pendamping Perhutani Ponorogo Terjaring OTT

PONOROGO, NusantaraPosOnline.Com-Seorang pendamping Perhutani Ponorogo, Lukman Fariqin (55) warga JL Mawar Kelurahan Nologaten Kecamatan Ponorogo, terjaring operasi tangkap tangan (OTT) oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) setempat, Selasa (4/8/2020).

Tersangka LF (Lukman Fariqin) kini harus menimati dinginnya dinding penjara. Petugas pendamping Perhutani itu terkena OTT di Kedai Sor Sawo, Jl Pramuka, Nolgaten, Ponorogo. Saat tertangkap tangan menerima uang Rp 6 juta dari saksi Sujono, Ketua LMDH Wonoharjo, Suren, Mlarak, Ponorogo.

Kasus ini berawal dari surat panggilan Kejari Ponorogo  yang diduga palsu terhadap Sujono (Ketua LMDH Wonoharjo) atas sebuah kasus yang diduga juga palsu. LF meminta uang sebesar Rp 24 juta kepada Sujono, dengan alasan kasusnya sudah diselesaikan.

“Tersangka meminta sejumlah uang, orang tersebut menggunakan kwitansi palsu, seolah-olah Kejari telah menerima uang Rp 24 juta. Sebelumnya tersangka membuat surat panggilan 16 Juli kepada saksi untuk datang ke Kejari. Namun sebelum masuk ke kantor Kejari, tersangka sudah mencegat korban dan mengatakan kasusnya sudah selesai tapi harus membayar Rp 24 juta,” terang Kajari Ponorogo, Khunaifi Alhumami.

Saat itu korban memberikan uang Rp 2 juta dan sisanya akan diberikan kemudian hari. Lalu pada Senin pagi (3/8/2020), mereka bertemu di Kedai Sor Sawo, korban memberikan uang Rp 6 juta, karena menurut Kajari, korban sudah curiga dengan tindakan tersangka. Saat menghitung uang itulah tersangka diamankan oleh petugas.

Kajari juga mengakui, kasus ini terbongkar setelah adanya informasi dari masyarakat. Kasus ini awalnya adalah kasus penipuan, namun karena tersangka adalah pendamping Perhutani yang dibayar oleh negara maka kasusnya menjadi tindak pidana korupsi.

“Tersangka menipu orang lain dengan mengatasnamakan Kejaksaan, tapi karena tersangka adalah tenaga pendamping yang dibayar negara oleh Perhutani, maka kita sangkakan pasal  12 huruf  e UU Tipikor, dengan ancanam 4 tahun dan maksimal 20 tahun,” pungkas Kajari, yang langsung menggelandang tersangka ke Rumah Tahanan Ponorogo.

Sementara itu kuasa hukum tersangka, Siswanto mengatakan, OTT yang dilakukan oleh Kejari karena tersangka dijebak oleh korban yang sudah dipersiapkan. Sebab sebelum tersangka sempat makan atau minum sudah disuruh menghitung uang sebesar Rp6 juta. Dan saat itulah tersangka ditangkap.

Menurut Siswanto, kerugian nominal adalah Rp 6 juta. Dan sesuai dengan keterangan dari kliennya, saat itu dipanggil oleh seseorang yang mengaku sebagai tim dari PBNU yang berinisial G. Tim ini mengaku disuruh datang ke Sor Sawo untuk memberikan sejumlah uang kepada tersangka.

“Pas di situ banyak petugas, ndak cuma tersangka saja tapi banyak namanya itu. Yang tim 10 katanya membawahi perkara apa ke program pertanian di sini ini inisialnya S, itu yang dari apa PBNU sesuai keterangan dari klien saya itu utusan dari PBNU, sebagai penyambung lidah antara tim yang ada di Ponorogo dengan DPR pusat,” imbuh Siswanto.

Namun untuk memperdalam kasus ini Siswanto masih akan berkoordinasi untuk mendampingi dalam proses penyidikan. Demikian juga koordinasi dengan keluarga tersangka, apakah masih memerlukan pendampingannya setelah penunjukan dirinya sebagai kuasa hukum atas biaya negara. (Edy/Myd)

Check Also

Dalam Sepekan Kejagung Tangkap Mantan Dirut Transjakarta Dan 2 Buron Lain

JAKARTA, NusantaraPosOnline.Com-Dalam sepekan Kejaksaan Agung meringkus tiga buronan yang telah lama dicari. Tiga buronan tesebut …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!